Konten Semarang
Semarang

Gemblong Bakar Jadi Simbol Kerekatan Warga Krapyak dalam Grebeg Subali 2026

Grebeg Subali Krapyak 2026 menghadirkan lima gunungan, dengan gemblong bakar sebagai simbol kerekatan dan persaudaraan warga.

Gemblong Bakar Jadi Simbol Kerekatan Warga Krapyak dalam Grebeg Subali 2026
Gemblong Bakar Jadi Simbol Kerekatan Warga Krapyak dalam Grebeg Subali 2026

“Tantangannya zaman kita ibaratkan pembakaran. Ini yang membuat warga lebih matang dan lebih mengeratkan persaudaraan sebagai warga Krapyak,” ujarnya.

Grebeg Subali pun tidak sekadar menjadi kegiatan budaya, tetapi juga menjadi sarana bagi warga untuk menghubungkan sejarah kampung dengan kehidupan masyarakat saat ini.

Tokoh Subali tetap menjadi bagian utama dalam konsep kirab karena berkaitan dengan sejarah dan penamaan sejumlah wilayah di Krapyak.

“Ini sebagai bagian dari kesadaran sejarah kami akan wilayah kami yang bernama Jalan Subali, baik Subali Raya maupun yang lainnya,” kata Tri.

Selain Subali, sejumlah nama wilayah di Krapyak juga mengambil nama tokoh wanara dalam cerita pewayangan, seperti Hanoman, Sugriwa dan Hanilo. Ada pula nama wilayah yang berkaitan dengan pawukon atau tempat persinggahan, di antaranya Mandasia, Watugunung, Kurantil, Julungwangi dan Galungan.

Menurut Tri, keberadaan nama-nama tersebut menjadi bagian dari identitas kawasan yang kembali diangkat melalui pelaksanaan Grebeg Subali.

“Karena itu, Grebeg Subali menjadi ruang bagi warga untuk kembali mendalami asal-usul penamaan wilayah sekaligus menyadari keberadaan mereka sebagai satu keluarga besar di Kelurahan Krapyak,” tambahnya.

Ia menambahkan, Kampung Subali yang berada di RT 2/RW 4 termasuk salah satu kawasan perkampungan yang telah lama berdiri di Krapyak. Kawasan tersebut disebut telah dihuni sejak sekitar 1800-an atau masa Perang Diponegoro.

Sejumlah bangunan lama masih dapat ditemukan hingga kini. Jejak permukiman tersebut juga terlihat pada peta tahun 1908, ketika sejumlah rumah telah berdiri di kawasan yang sekarang dikenal sebagai Jalan Siliwangi.

Jalur tersebut pada masa lalu merupakan bagian dari Jalan Daendels. Jejak itu menjadi gambaran perjalanan panjang Krapyak sebagai salah satu kawasan kampung kota di Semarang.

Baca Juga Otomatis

Rekomendasi berdasarkan kategori dan tag berita ini.

Halaman 2 dari 3

Artikel Selanjutnya

Perubahan APBD Semarang Defisit Rp219,2 Miliar, Agustina Jelaskan Penyebabnya
Semarang • 30 September 2026

Perubahan APBD Semarang Defisit Rp219,2 Miliar, Agustina Jelaskan Penyebabnya

Rekomendasi Redaksi