“Sejarahnya cukup panjang sebagai satu kampung. Kita belajar bagaimana tetap mempertahankan kita sebagai bagian dari kampung kota yang ada di Semarang untuk menghadapi segala tantangan yang ada,” pungkas Tri.
Grebeg Subali sendiri telah berlangsung sejak 2012 ketika pertama kali digagas di Kampung Subali. Tradisi tersebut kembali dilaksanakan pada 2016 dan 2019, sebelum berbagai kegiatan masyarakat terhenti akibat pandemi Covid-19.
Pada 2026, Grebeg Subali kembali hadir melalui rangkaian kegiatan selama tiga hari. Selain kirab budaya, kegiatan juga diisi workshop dan pertunjukan wayang.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang, Indriyasari, mengatakan keberlangsungan tradisi budaya sangat dipengaruhi oleh partisipasi masyarakat.
“Pastinya Disbudpar ingin kebudayaan itu tumbuh tidak hanya di tingkat pemerintah kota, tetapi masyarakat,” jelasnya.
Perempuan yang akrab disapa Iin tersebut berharap Grebeg Subali dapat kembali diselenggarakan pada 2027 dengan rangkaian kegiatan yang lebih beragam.
Menurutnya, keterlibatan masyarakat dari berbagai kelompok usia, khususnya generasi muda, penting untuk menjaga agar tradisi tetap hidup dan tidak hanya menjadi agenda tahunan.
“Nilai-nilai tradisi yang dilestarikan harapannya tidak hanya dari kami, tetapi masyarakatnya ikut bergerak, terutama generasi muda. Kalau kita lihat bersama, mulai dari generasi muda sampai senior pun ada semua,” pungkasnya. (*)