Di bagian bawah lukisan terdapat tulisan yang terbaca “R. Saleh 1880”. Tahun tersebut bertepatan dengan tahun wafat Raden Saleh, yang meninggal dunia pada 23 April 1880 di Bogor. Meski demikian, tulisan tersebut belum cukup untuk memastikan keaslian maupun atribusi lukisan.
Diklaim Pernah Diteliti Akademisi dan Pecinta Lukisan
Budi Harjono menyebut sejumlah akademisi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) dan pecinta lukisan pernah melakukan penelitian terhadap karya tersebut. Berdasarkan penuturannya, mereka menyatakan lukisan itu asli.
Namun, untuk memastikan klaim tersebut, masih diperlukan dokumentasi hasil pemeriksaan, informasi mengenai pihak yang melakukan penelitian, serta metode autentikasi yang digunakan.
Penentuan keaslian sebuah lukisan tidak bisa hanya mengandalkan tanda tangan atau tahun yang tertera pada karya. Pemeriksaan juga perlu mencakup material, teknik pengerjaan, karakteristik cat, kondisi kanvas, hingga rekam jejak kepemilikan.
Pernah Ditawarkan dengan Mahar Rp1 Miliar
Lukisan tua tersebut pernah ditawarkan untuk dijual melalui seorang perantara dengan nilai mahar mencapai Rp1 miliar. Namun, Budi Harjono memilih menolak skema penjualan yang diajukan.
Ia menyatakan calon pembeli yang benar-benar berminat dapat datang langsung ke lokasi untuk melakukan transaksi secara tunai.
Bagi Budi, lukisan itu memiliki kisah tersendiri yang bermula dari kejadian sederhana di Magelang pada 1990. Berawal dari tumpukan lukisan yang terbengkalai di belakang bengkel, karya tersebut kemudian dibawa dan dirawat hingga saat ini.
Raden Saleh dikenal sebagai salah satu pelukis Indonesia abad ke-19 yang namanya mendapat pengakuan internasional.