Konten Semarang
Semarang

Agustina Wilujeng Minta Hasil Panen Warga Semarang Terserap Pasar

Agustina Wilujeng Minta pertanian terpadu Metode BSM di Semarang diarahkan ke pasar agar hasil panen warga terserap, memperkuat pangan

Agustina Wilujeng Minta pertanian terpadu Metode BSM di Semarang diarahkan ke pasar agar hasil panen warga terserap, memperkuat pangan
Agustina Wilujeng Minta pertanian terpadu Metode BSM di Semarang diarahkan ke pasar agar hasil panen warga terserap, memperkuat pangan

KONTENSEMARANG.COM – Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng mendorong pengembangan Pertanian Terpadu atau integrated urban farming dengan Metode BSM (Bayu Sehat Mandiri). Pola tersebut mengintegrasikan sektor pertanian, peternakan, dan perikanan dalam satu sistem pengelolaan untuk memperkuat ketersediaan pangan sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.

Agustina Wilujeng menyampaikan arahan tersebut dalam Coaching Clinic dan Pelatihan Pertanian Terpadu Metode BSM yang berlangsung di Balai Kota Semarang, Kamis (1/10). Dalam kegiatan itu, Agustina menghadirkan pakar pertanian terpadu Bayu Diningrat untuk memperkuat pembelajaran kelompok tani sekaligus mempersiapkan pendamping yang akan mengikuti training of trainers (TOT).

Menurut Agustina, keberhasilan program pertanian terpadu tidak cukup hanya diukur dari proses budidaya hingga menghasilkan panen. Tahapan setelah panen juga harus dipersiapkan dengan baik agar produk yang dihasilkan masyarakat memiliki jalur penyerapan yang jelas.

Baca Juga
7.990 Atlet Siap Berlaga di Porprov Jateng XVII 2026
Regional • 02 Oktober 2026

Hasil budidaya seperti sayuran, cabai, dan lele, misalnya, perlu dipastikan memiliki pasar. Dengan demikian, hasil produksi masyarakat tidak berhenti pada proses panen tanpa adanya kepastian penyerapan.

“Keberhasilan dari pertanian terpadu, pertanian, ternak dan perikanan itu juga harus disiapkan skema pasarnya. Jangan sampai hasil panennya sia-sia. Kita harus membangun jaringan dan menetapkan jaringan, kalau ada produk harus ada pasar,” ujar Agustina.

Untuk membangun rantai pasar tersebut, Agustina meminta perangkat daerah yang terkait untuk duduk bersama dan menyusun pola pengelolaan secara menyeluruh, mulai dari proses produksi hingga penyerapan hasil pertanian masyarakat.

Kempling Semar akan dipersiapkan sebagai salah satu jaringan awal yang dapat menampung produk masyarakat. Setelah itu, jaringan pemasaran hasil produksi tersebut akan dikembangkan menuju pasar yang lebih luas.

Pengembangan pertanian terpadu Metode BSM juga akan dilakukan secara bertahap. Pada tahap awal, Agustina menargetkan proses pengajuan sekaligus pemetaan lahan produktif dapat dituntaskan pada Januari 2027.

Setelah pemetaan tersebut selesai, pola tanam terpadu dijadwalkan mulai diterapkan pada Februari 2027. Program ini akan dijalankan sebagai percontohan sebelum dilakukan evaluasi pada akhir 2027.

Hasil evaluasi tersebut selanjutnya akan menjadi dasar untuk pengembangan program pada 2028. Dengan tahapan itu, pola pertanian terpadu diharapkan dapat diterapkan secara terencana di berbagai wilayah.

Agustina mengatakan, pengembangan pertanian perkotaan juga dapat memberikan manfaat dalam menjaga ketersediaan pangan. Langkah tersebut sekaligus menjadi salah satu upaya menghadapi perubahan kondisi yang sulit diprediksi.

Karena itu, ia meminta seluruh perangkat daerah terkait tidak bekerja secara terpisah. Kolaborasi diperlukan dalam menyiapkan pola pertanian terpadu yang dapat diterapkan sesuai wilayah masing-masing.

“Sekarang zamannya, collab, kolaborasi. Collab yang memiliki impact. Kolaborasi yang berdampak,” kata Agustina.

Menurut Agustina, kerja bersama antarpihak menjadi bagian penting karena program tersebut tidak berhenti pada pengelolaan lahan dan produksi pangan. Sistem yang dibangun juga harus mampu menghubungkan proses budidaya dengan penyerapan produk setelah panen.

Dengan pola tersebut, hasil panen warga terhubung ke pasar sehingga produk yang dihasilkan dari kegiatan pertanian, peternakan, maupun perikanan mempunyai jaringan penyerapan yang telah disiapkan.

Agustina berharap pola tersebut dapat menjadi cara baru dalam mengelola lahan produktif di Kota Semarang. Integrasi antara tanaman, ternak, dan perikanan diharapkan dapat berjalan beriringan dengan pembangunan jaringan pemasaran.

Ia kembali menekankan bahwa hasil produksi warga harus mendapatkan akses pasar. Kempling Semar menjadi salah satu jaringan yang disiapkan, selain kemungkinan penyerapan melalui jaringan pasar lainnya.

“BSM ini nanti memberi kita sebuah cara pandang yang baru terhadap cara pandang dalam pengelolaan lahan yang terintegrasi. Ternak, tanaman, perikanan, disambung kalau panen, nanti ke Kempling Semar, Pak Rahman, atau ke pasar manapun. Tapi ingat pokoknya, jangan sampai hasil panennya sia-sia,” pungkas Agustina.

Melalui Metode BSM, pengembangan lahan produktif di Kota Semarang diarahkan tidak hanya menghasilkan komoditas pertanian, peternakan, dan perikanan, tetapi juga memiliki skema pasar sehingga hasil panen masyarakat tidak terbuang dan dapat membuka peluang ekonomi.

Baca Juga Otomatis

Rekomendasi berdasarkan kategori dan tag berita ini.

Menampilkan semua halaman artikel.

Artikel Selanjutnya

Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Bangga Nurisa Raih Emas Panahan Asian Games
Semarang • 02 Oktober 2026

Agustina Wilujeng Bangga Nurisa Dian Ashrifah Raih Emas Panahan Asian Games

Rekomendasi Redaksi