“Intinya, keinginannya, semua harapannya kita simpan sebagai sebuah kenangan indah bersama Rivana,” tuturnya.
Selain dikenal karena prestasinya, Ayudiah juga meninggalkan kesan sebagai pribadi yang berbakti kepada orang tua, tekun belajar, serta mudah menjalin pertemanan. Ia juga dinilai senang membagikan ilmu dan pengetahuan kepada orang-orang di sekitarnya.
“Kita semua menjadi saksi bahwa Mbak Rivana ini anak yang sangat berbakti kepada orang tuanya, disiplin dalam belajar, berprestasi dalam banyak hal, memiliki banyak teman, mudah bergaul, serta banyak memberikan pengetahuan dan ilmunya kepada orang-orang di sekitarnya,” ungkap Agustina.
Ayudiah meninggal dunia pada Rabu pagi setelah menjalani operasi akibat cedera yang dialaminya ketika bertanding dalam Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Tengah 2026.
Cedera dislokasi pada ruas jari tengah dialami Ayudiah saat berlaga di babak perempat final menghadapi atlet Kabupaten Batang pada Senin (26/10/2026).
Setelah memperoleh penanganan medis, Ayudiah menjalani operasi di RS Primaya Semarang pada Selasa malam (27/10/2026).
Namun, pada Rabu pagi, kabar meninggalnya atlet muda tersebut membawa kesedihan bagi keluarga dan lingkungan olahraga Kota Semarang.
Kepergian Ayudiah meninggalkan duka bagi orang tua, rekan sesama atlet, pelatih, serta masyarakat yang mengikuti perjalanan prestasinya.
Agustina kembali menyampaikan rasa bangganya atas pencapaian dan sosok Ayudiah. Ia juga mendoakan agar almarhumah mendapatkan tempat terbaik di sisi Tuhan.
“Kepada Pak Yovan dan Bu Andi, sekali lagi kami sampaikan rasa belasungkawa dan perasaan duka cita kami seluruh warga Kota Semarang. Dan kami ingin sampaikan bahwa kami bangga memiliki Rivana,” ujar Agustina.