“Harapan saya, semoga anak-anak kami yang menerima bantuan KIP-K dapat memaksimalkan bantuan ini. Saya berharap anak-anak kami dapat lulus tepat waktu, dengan IPK yang terbaik, minimal IPK 3, syukur-syukur lebih. Dan ilmunya dapat dimanfaatkan kemudian hari untuk membantu masyarakat,” ujar Dian.
Sementara itu, Elisia Adiana mengaku bahagia setelah dinyatakan sebagai penerima KIP-K 2026. Bantuan tersebut membuatnya dapat melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi tanpa menambah beban pembiayaan bagi orangtuanya.
“Tentunya saya senang, karena saya bisa kuliah di sini tanpa membebankan orang tua,” ujar Elisia.
Dalam mengikuti seleksi KIP-K, Elisia menyebut dirinya telah mempersiapkan dokumen yang dibutuhkan dan menjalani sejumlah tahapan, termasuk wawancara serta proses seleksi lainnya.
Selama berkuliah di USM, Elisia berharap dapat memperoleh pengetahuan sebanyak mungkin. Ia juga ingin memperluas jaringan pertemanan dan relasi yang dapat mendukung perjalanan akademiknya.
“Saya harap saya berkuliah di sini dapat mendapatkan ilmu yang banyak dan tentunya relasi yang banyak, dan juga teman-teman yang dapat membantu saya untuk berkuliah di sini,” tuturnya.
Program KIP-K merupakan salah satu upaya pemerintah membantu mahasiswa dari keluarga yang menghadapi keterbatasan ekonomi agar tetap dapat mengakses pendidikan tinggi.
Melalui program ini, USM mendorong penerima beasiswa untuk menjalani perkuliahan dengan penuh tanggung jawab, menyelesaikan studi tepat waktu, aktif dalam kegiatan kampus, serta mengembangkan kompetensi dan karakter.
Kesempatan tersebut diharapkan tidak hanya berdampak bagi mahasiswa selama menempuh pendidikan, tetapi juga menjadi bekal agar ilmu yang diperoleh dapat memberikan manfaat dan kontribusi bagi masyarakat. (*)