Untuk mengurangi risiko tersebut, warga yang terpaksa harus beraktivitas di luar rumah saat udara terdampak abu vulkanis dianjurkan menggunakan masker.
"Supaya tidak terkena hal itu, maka disarankan ketika benar-benar keluar rumah dengan terpaksa, ya harus pakai masker," tuturnya.
Dinas Kesehatan Kota Semarang juga telah mempersiapkan langkah penanganan apabila nantinya ditemukan masyarakat yang mengalami gangguan kesehatan akibat paparan abu vulkanis.
Meski begitu, Hakam berharap material erupsi Gunung Anak Krakatau tidak sampai mencapai Kota Semarang. Berdasarkan arah angin, abu vulkanis diperkirakan bergerak ke barat daya menuju Samudra Hindia.
"Kalau memang abu vulkanis Gunung Anak Krakatau belum sampai di sini dan mudah-mudahan tidak, karena memang secara angin itu larinya ke Samudra Hindia, artinya ke arah barat daya," katanya.
Selain potensi abu vulkanis, kondisi kualitas udara di Semarang selama musim kemarau juga tetap menjadi perhatian. Salah satu parameter yang dipantau yakni konsentrasi partikel halus PM2,5.
Hakam menyebut belum terdapat perubahan berarti pada kadar PM2,5 di Kota Semarang setelah erupsi Gunung Anak Krakatau yang terjadi Jumat (4/9).
"Sebelum ada abu vulkanis, ternyata PM2,5-nya itu tidak ada yang berbeda, artinya sama," ujarnya. (*)