“Boleh kita punya sekolah yang berbeda, boleh kita punya latar belakang yang berbeda, tetapi masa depan kalian yang menentukan. Ora usah berkecil hati, ora usah minder. Semangat,” pesan Luthfi.
Ia menegaskan, keterbatasan ekonomi tidak boleh menjadi alasan seorang anak kehilangan kesempatan untuk mengenyam pendidikan.
“Mereka harus tetap sekolah, tidak boleh putus sekolah. Sekolah tidak boleh berhenti hanya karena kondisi keluarga kurang mampu,” katanya.
Menurut Luthfi, Program Sekolah Kemitraan merupakan wujud tanggung jawab pemerintah dalam memberikan jaminan pendidikan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu.
Ia mengatakan, para siswa yang mengikuti program tersebut berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari anak pedagang angkringan, pengemudi ojek, buruh, hingga anak yang kehilangan orang tua atau diasuh kerabat.
“Namun, mereka tetap semangat untuk sekolah. Ini merupakan bentuk tanggung jawab negara untuk selalu memberikan jaminan dan kepastian pendidikan bagi mereka,” ujarnya.
Pada tahun ajaran 2026/2027, Pemprov Jawa Tengah bekerja sama dengan 139 sekolah swasta yang terdiri atas 56 SMA dan 83 SMK.
Sebanyak 3.663 siswa diterima melalui Program Sekolah Kemitraan, terdiri dari 1.063 siswa SMA dan 2.600 siswa SMK. Jumlah tersebut meningkat dibandingkan tahun ajaran sebelumnya yang mencapai 2.390 siswa.
Di Kota Semarang, sebanyak 51 siswa mengikuti program ini, yang tersebar di SMA Laboratorium UPGRIS sebanyak 24 siswa, SMK Bina Nusantara 21 siswa, dan SMK Ibu Kartini enam siswa.
Selain itu, sebanyak 55 siswa menerima bantuan perlengkapan sekolah dan sepatu. Orang tua siswa juga memperoleh paket sembako dari Baznas Jawa Tengah.