Konten Semarang
Semarang

Dinkes Semarang Ungkap Kasus DBD Turun Drastis, Wolbachia Tekan Penularan 77 Persen

Kasus DBD di Semarang turun drastis menjadi 4 kasus hingga September 2026, seiring efektivitas program Wolbachia mencapai 77 persen.

Dinkes Semarang Ungkap Kasus DBD Turun Drastis, Wolbachia Tekan Penularan 77 Persen
Dinkes Semarang Ungkap Kasus DBD Turun Drastis, Wolbachia Tekan Penularan 77 Persen

KONTENSEMARANG.COM – Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kota Semarang mengalami penurunan signifikan sepanjang 2026. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Semarang mencatat hingga 9 September hanya terdapat empat kasus DBD.

Angka tersebut turun jauh dibandingkan tahun sebelumnya. Berdasarkan Buku Saku Kesehatan Provinsi Jawa Tengah 2025, Kota Semarang mencatat 131 kasus DBD selama 2025.

Kepala Dinkes Kota Semarang M Abdul Hakam menyebut penerapan bakteri Wolbachia selama tiga tahun terakhir menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap penurunan kasus tersebut.

“Turunnya drastis. Hanya empat kasus per 9 September ini,” kata Hakam saat ditemui di kantornya, Jalan Pandanaran, Kota Semarang, Rabu (9/9).

Menurut Hakam, program Wolbachia dinilai efektif mengurangi potensi penularan virus dengue di tengah masyarakat. Ia menyebut tingkat efektivitas program tersebut mencapai 77 persen dalam mencegah kejadian DBD di Kota Semarang.

“Ingat kita itu sudah berjuang selama tiga tahun ini dengan Wolbachia. Ternyata, Wolbachia itu 77 persen sangat bermanfaat untuk mencegah kejadian demam berdarah di Kota Semarang,” ujarnya.

Ia menjelaskan, bakteri Wolbachia bekerja dengan menghambat kemampuan nyamuk Aedes aegypti dalam membawa sekaligus menularkan virus dengue kepada manusia.

“Walaupun nyamuknya banyak, walaupun digigit, tetapi tidak sampai mengeluarkan virus dengue,” katanya.

Hakam mengatakan nyamuk Aedes aegypti tetap dapat menggigit manusia meskipun telah mengandung Wolbachia. Namun, bakteri tersebut membuat virus dengue sulit berkembang dan ditularkan melalui gigitan nyamuk.

“Yang menyebabkan demam berdarah itu karena ketika gigit, kemudian dia akan bertukar menghisap darah plus memasukkan virus ke dalam tubuh seseorang. Nah, ini tidak bisa karena ada bakterinya Wolbachia,” jelasnya.

Meski menunjukkan hasil positif, program Wolbachia belum diterapkan secara merata di seluruh wilayah Kota Semarang. Dinkes masih mencatat adanya sejumlah kelurahan dan kecamatan yang belum memperoleh program tersebut selama dua tahun terakhir.

Pemerintah Kota Semarang menargetkan wilayah yang belum tersentuh program Wolbachia dapat diselesaikan tahun ini.

“Tahun ini terakhir, nanti beberapa kelurahan ataupun kecamatan yang di dua tahun terakhir ini belum, ini kami akan selesaikan,” ujarnya.

Hakam menegaskan, keberadaan Wolbachia tidak berarti upaya pemberantasan DBD dapat dilakukan hanya dengan satu cara. Peran masyarakat tetap dibutuhkan untuk mencegah perkembangbiakan nyamuk.

Apalagi, Kota Semarang kini memasuki musim kemarau. Suhu panas dapat mempercepat proses perkembangan nyamuk, mulai dari telur hingga menjadi nyamuk dewasa.

Karena itu, warga diminta tetap melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) secara rutin. Hakam bahkan mendorong masyarakat menjalankan PSN hingga tiga kali dalam sepekan.

“Ketika musim panas atau musim kemarau ini, tumbuh kembang nyamuk dari telur jadi jentik kemudian dia terbang, itu lebih cepat,” katanya.

Selain mempercepat perkembangan nyamuk, musim kemarau juga dapat meningkatkan aktivitas Aedes aegypti. Kondisi ini membuat kewaspadaan masyarakat tetap diperlukan meski jumlah kasus DBD saat ini berada pada angka rendah.

Hakam menjelaskan, anggapan masyarakat mengenai nyamuk yang terasa lebih banyak saat cuaca panas berkaitan dengan durasi aktivitas nyamuk yang menjadi lebih panjang.

“Kalau musim hujan, mungkin terbang cuma tiga jam. Begitu musim panas, kerjanya bisa lebih panjang, bisa enam jam,” tuturnya. (*)

Baca Juga Otomatis

Rekomendasi berdasarkan kategori dan tag berita ini.

Menampilkan semua halaman artikel.

Artikel Selanjutnya

Agustina Apresiasi Toleransi Lintas Agama dalam Gelaran MTQ Nasional XXXI Semarang
Semarang • 10 September 2026

Agustina Apresiasi Toleransi Lintas Agama dalam Gelaran MTQ Nasional XXXI Semarang

Rekomendasi Redaksi