Meski menunjukkan hasil positif, program Wolbachia belum diterapkan secara merata di seluruh wilayah Kota Semarang. Dinkes masih mencatat adanya sejumlah kelurahan dan kecamatan yang belum memperoleh program tersebut selama dua tahun terakhir.
Pemerintah Kota Semarang menargetkan wilayah yang belum tersentuh program Wolbachia dapat diselesaikan tahun ini.
“Tahun ini terakhir, nanti beberapa kelurahan ataupun kecamatan yang di dua tahun terakhir ini belum, ini kami akan selesaikan,” ujarnya.
Hakam menegaskan, keberadaan Wolbachia tidak berarti upaya pemberantasan DBD dapat dilakukan hanya dengan satu cara. Peran masyarakat tetap dibutuhkan untuk mencegah perkembangbiakan nyamuk.
Apalagi, Kota Semarang kini memasuki musim kemarau. Suhu panas dapat mempercepat proses perkembangan nyamuk, mulai dari telur hingga menjadi nyamuk dewasa.
Karena itu, warga diminta tetap melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) secara rutin. Hakam bahkan mendorong masyarakat menjalankan PSN hingga tiga kali dalam sepekan.
“Ketika musim panas atau musim kemarau ini, tumbuh kembang nyamuk dari telur jadi jentik kemudian dia terbang, itu lebih cepat,” katanya.
Selain mempercepat perkembangan nyamuk, musim kemarau juga dapat meningkatkan aktivitas Aedes aegypti. Kondisi ini membuat kewaspadaan masyarakat tetap diperlukan meski jumlah kasus DBD saat ini berada pada angka rendah.
Hakam menjelaskan, anggapan masyarakat mengenai nyamuk yang terasa lebih banyak saat cuaca panas berkaitan dengan durasi aktivitas nyamuk yang menjadi lebih panjang.
“Kalau musim hujan, mungkin terbang cuma tiga jam. Begitu musim panas, kerjanya bisa lebih panjang, bisa enam jam,” tuturnya. (*)