Selain itu, pada rasio air-semen yang sama, peningkatan fraksi serat berbanding lurus dengan kenaikan kuat tekan beton.
Dari sisi perilaku, beton SCC berserat baja yang terkekang cenderung menunjukkan pola keruntuhan yang daktail, tanpa kegagalan mendadak saat mencapai beban maksimum.
Peran tulangan pengekang juga terbukti signifikan dalam meningkatkan kekuatan dan daktilitas beton.
Ia menambahkan, semakin rapat jarak tulangan pengekang atau semakin tinggi rasio volumetriknya, maka nilai kekuatan dan daktilitas beton juga meningkat.
Namun, penambahan fraksi serat tidak selalu meningkatkan kekuatan secara langsung, meskipun mampu meningkatkan daktilitas.
Pada beton penampang persegi, konfigurasi tulangan dengan rasio volumetrik tinggi serta tegangan leleh maksimum menghasilkan performa terbaik.
Secara umum, tulangan spiral lebih efektif dibandingkan hoop dalam meningkatkan kekuatan dan daktilitas, meskipun pada kondisi tertentu hoop bisa lebih unggul.
Hasil perbandingan dengan model kekangan yang sudah ada menunjukkan bahwa model Purwanto et al. lebih mendekati hasil eksperimen untuk penampang bulat, sedangkan model Paultre et al. lebih relevan untuk penampang persegi.
Selain itu, analisis menggunakan kriteria Mohr Coulomb menghasilkan koefisien efektivitas kekangan sebesar 3,0.
Temuan ini juga memberikan implikasi pada desain tulangan pengekang, khususnya dalam menentukan rasio volumetrik minimum yang dinilai lebih konservatif dibandingkan beberapa standar perencanaan yang ada. (*)