Heri mengingatkan bahwa perubahan pola konsumsi masyarakat dalam beberapa dekade terakhir menyebabkan sejumlah pangan lokal mulai jarang dikonsumsi.
Padahal, banyak komoditas lokal memiliki kandungan gizi yang baik dan mampu tumbuh sesuai karakteristik wilayah setempat.
Karena itu, ia mendorong berbagai pihak untuk meningkatkan edukasi mengenai pentingnya diversifikasi pangan, sekaligus memperluas pemanfaatan bahan pangan lokal dalam kehidupan sehari-hari.
“Pangan lokal bukan simbol masa lalu. Justru di tengah tantangan global saat ini, pangan lokal bisa menjadi salah satu solusi untuk memperkuat kemandirian pangan daerah,” ujarnya.
Selain itu, Heri menilai program ketahanan pangan perlu diintegrasikan dengan penguatan sektor pertanian berbasis potensi lokal.
Dukungan terhadap petani, akses pasar, teknologi budidaya, hingga hilirisasi produk pangan lokal menjadi faktor penting agar komoditas tersebut memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi.
Menurutnya, ketahanan pangan yang kuat harus dibangun dari tingkat keluarga, desa, hingga daerah. Karena itu, pengembangan pekarangan produktif, lumbung pangan masyarakat dan pemanfaatan lahan pertanian secara optimal perlu terus didorong.
“Jangan sampai kita kehilangan kekayaan pangan lokal yang selama ini menjadi bagian dari identitas daerah. Selain bernilai ekonomi, keberagaman pangan juga menjadi modal penting dalam menjaga ketahanan pangan masyarakat,” katanya.
“Ketahanan pangan yang sesungguhnya adalah ketika masyarakat memiliki akses terhadap pangan yang cukup, bergizi, terjangkau dan beragam. Karena itu, menjaga keragaman pangan lokal harus menjadi agenda bersama untuk masa depan yang lebih tangguh,” pungkasnya. (*)