Konten Semarang
Semarang

Grebeg Subali 2026 Kembali Digelar, Krapyak Hidupkan Memori dan Budaya Kampung

Grebeg Subali 2026 di Krapyak mengangkat sejarah dan memori kampung melalui seni, tradisi, diskusi, pameran, workshop, dan kirab budaya.

Grebeg Subali 2026 Kembali Digelar, Krapyak Hidupkan Memori dan Budaya Kampung
Grebeg Subali 2026 Kembali Digelar, Krapyak Hidupkan Memori dan Budaya Kampung

Kurator Grebeg Subali 2026, Tri Subekso, mengatakan tema “Ngeling, Ngilo, Nginguk” menggambarkan upaya melihat keterhubungan antara masa lalu, situasi saat ini, dan masa depan.

“Tema Ngeling, Ngilo, Nginguk kami pilih karena Krapyak memiliki banyak cerita dan jejak masa lalu yang penting untuk diingat. Ada ruang, nama tempat, tradisi, dan pengalaman masyarakat yang mungkin secara fisik sudah berubah, tetapi memorinya masih hidup,” kata Tri Subekso.

Menurut Tri, penggalian kembali sejarah kampung tidak diarahkan sekadar untuk menghadirkan rasa nostalgia. Masa lalu diharapkan dapat menjadi bahan refleksi untuk membaca perubahan yang berlangsung saat ini.

“Grebeg Subali kami rancang bukan untuk membawa masyarakat sekadar bernostalgia. Masa lalu perlu dilihat sebagai cermin untuk memahami kondisi hari ini dan menjadi pijakan untuk menentukan masa depan. Karena itu, seni, diskusi, pameran, workshop, dan kirab kami tempatkan sebagai bagian dari perjalanan tersebut,” tambahnya.

Selama tiga hari pelaksanaan, Grebeg Subali 2026 menghadirkan beragam kegiatan seni dan tradisi. Pada Jumat, 25 September, acara diawali prosesi budaya Kalangwan Ibu Pertiwi.

Dalam prosesi tersebut, warga akan berjalan bersama mengelilingi kampung dengan membawa lentera sambil menembangkan “Ketawang Ibu Pertiwi” karya Ki Nartosabdo. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan pemasangan Lampu Teng-Teng di sejumlah lokasi.

Hari pertama juga diisi pembukaan pameran, pertunjukan Teater GEMA, serta diskusi budaya bertajuk “Dudah Krapyak: Dari Pesisir, Perkampungan, hingga Lahirnya Perumnas”.

Diskusi tersebut menghadirkan Tri Subekso dan Dina Prasetyawan sebagai pemantik, dengan Sutanto, Rendra Agusta, dan Johanes Christiono sebagai narasumber.

Rangkaian kegiatan berlanjut pada Sabtu, 26 September, melalui workshop Wayang Suket dan sejumlah pertunjukan kesenian.

Sementara pada Minggu, 27 September, masyarakat dapat mengikuti workshop Lampu Teng-Teng sebelum acara ditutup dengan Kirab Budaya.

Baca Juga Otomatis

Rekomendasi berdasarkan kategori dan tag berita ini.

Halaman 2 dari 3

Artikel Selanjutnya

Dinkes Semarang Ungkap Kasus DBD Turun Drastis, Wolbachia Tekan Penularan 77 Persen
Semarang • 10 September 2026

Dinkes Semarang Ungkap Kasus DBD Turun Drastis, Wolbachia Tekan Penularan 77 Persen

Rekomendasi Redaksi