Luthfi juga menuturkan bahwa penanganan TBC di Jawa Tengah kini diintegrasikan dengan program Speling. Skrining atau pelacakan penderita dilakukan menggunakan alat portable pemeriksa tuberkulosis, namun jumlah alat tersebut masih terbatas.
“Untuk TBC, kami membutuhkan alat dengan mobilitas tinggi agar bisa menjangkau seluruh desa. Saat ini ketersediaannya masih kurang,” jelasnya.
Untuk memastikan pelayanan kesehatan berjalan optimal, Pemprov Jateng memperkuat sinergi antara pemerintah pusat, provinsi, kabupaten/kota, serta rumah sakit negeri dan swasta. Tidak hanya itu, kampus juga dilibatkan melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN) tematik kesehatan agar mahasiswa dapat berkontribusi langsung di lapangan.
“Kesehatan adalah tanggung jawab bersama. Kami libatkan semua unsur, termasuk perguruan tinggi, untuk mewujudkan masyarakat Jawa Tengah yang sehat dan produktif,” pungkas Luthfi.