“Setiap bulan alhamdulillah terkumpul paling tidak sekitar Rp8 miliar dari ASN di lingkungan Pemprov Jawa Tengah,” jelasnya.
Dana tersebut kemudian disalurkan kepada masyarakat yang berhak menerima zakat atau mustahik di berbagai daerah di Jawa Tengah.
Keberhasilan pengelolaan zakat tersebut, lanjutnya, menjadi inspirasi untuk memperkuat pengelolaan wakaf agar manfaatnya semakin luas bagi masyarakat.
Dalam kesempatan itu, Gus Yasin juga menekankan pentingnya memberikan teladan dalam menggerakkan wakaf.
Ia bahkan mengaku pada hari yang sama telah dua kali meluncurkan QR wakaf sebagai bentuk ajakan nyata kepada masyarakat.
Karena itu, ia mengajak pimpinan dan pegawai lembaga keuangan, termasuk Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), untuk turut berpartisipasi dalam gerakan wakaf.
Sementara itu, Kepala Perwakilan BI Provinsi Jawa Tengah sekaligus Ketua BMPD Jateng-Semarang, Mohamad Noor Nugroho, mengatakan peluncuran program wakaf sosial merupakan hasil sinergi BI bersama Dompet Dhuafa guna memperluas manfaat wakaf bagi masyarakat.
Program Wakaf Sosial Bank Indonesia menghadirkan tiga inisiatif utama, yaitu wakaf air melalui pembangunan sumur bor sebagai sumber air bersih, wakaf renovasi masjid untuk meningkatkan kelayakan tempat ibadah, serta wakaf ambulans guna mendukung layanan kesehatan gratis bagi masyarakat dhuafa di Jawa Tengah.
Melalui program tersebut diharapkan masyarakat yang membutuhkan dapat memperoleh akses air bersih, fasilitas ibadah yang lebih layak, serta layanan kesehatan yang memadai.
Pada kesempatan itu, BMPD Jateng-Semarang bersama Otoritas Jasa Keuangan dan Bank Indonesia juga menyerahkan bantuan kepada sejumlah lembaga sosial, antara lain Panti Asuhan Sunan Gresik Al Bukhori, Panti Asuhan Dar Attaqwa Wadda’wah, Panti Sosial Anak Asuh Sunan Drajat, Panti Asuhan Anak Asuh Sunan Kalijaga, Panti Asuhan Al-Amanah, serta Special Olympics Indonesia Jawa Tengah.