KONTENSEMARANG.COM - Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah Heri Pudyatmoko mendorong pemerintah daerah untuk memperkuat pendidikan inklusif dalam mewujudkan Generasi Emas Indonesia 2045.
Salah satunya dengan mengintegrasikan pengembangan life skills atau keterampilan hidup ke dalam proses pembelajaran bagi anak berkebutuhan khusus (ABK).
Menurut Heri, pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus tidak cukup hanya berorientasi pada capaian akademik.
Melainkan membekalinya dengan keterampilan praktis, kemampuan sosial, komunikasi, kemandirian, serta kesiapan menghadapi kehidupan sehari-hari dan dunia kerja.
“Pendidikan harus membantu setiap anak berkembang sesuai potensinya. Bagi anak berkebutuhan khusus, keterampilan hidup menjadi bekal penting agar mereka lebih mandiri, percaya diri dan memiliki kesempatan yang lebih besar untuk berpartisipasi dalam kehidupan sosial maupun ekonomi,” ungkapnya.
Heri mengatakan, konsep pendidikan inklusif saat ini semakin menekankan pendekatan yang berpusat pada kebutuhan peserta didik.
Pemerintah melalui Kemendikdasmen juga telah membuka ruang modifikasi capaian pembelajaran dan penyesuaian kurikulum bagi peserta didik berkebutuhan khusus di sekolah inklusif sesuai hasil asesmen dan karakteristik masing-masing anak.
Menurutnya, pendekatan tersebut perlu diperkuat dengan pengembangan life skills yang terstruktur. Mulai dari keterampilan komunikasi, pengelolaan diri, literasi digital dasar, kemampuan berinteraksi sosial, hingga keterampilan vokasional yang relevan dengan potensi masing-masing peserta didik.
“Tujuan akhirnya bukan hanya kelulusan sekolah, tetapi bagaimana anak-anak ini mampu hidup lebih mandiri dan memiliki peluang untuk berkarya sesuai kemampuan yang mereka miliki,” katanya.
Heri menilai kebutuhan tersebut semakin relevan di tengah perubahan dunia kerja dan perkembangan teknologi yang berlangsung sangat cepat.
“Generasi emas adalah ketika setiap anak, termasuk anak berkebutuhan khusus, memperoleh kesempatan yang sama untuk berkembang, mandiri dan berkontribusi bagi masyarakat,” ujarnya.
Heri menambahkan bahwa Jawa Tengah memiliki peluang menjadi salah satu daerah yang terdepan dalam pengembangan pendidikan inklusif apabila penguatan kurikulum, peningkatan kapasitas guru, serta dukungan terhadap pengembangan keterampilan hidup dilakukan secara konsisten.
“Pembangunan sumber daya manusia yang berkualitas harus bersifat inklusif. Tidak boleh ada anak yang tertinggal hanya karena memiliki kebutuhan yang berbeda. Justru keberagaman itulah yang harus menjadi kekuatan dalam membangun masa depan daerah,” pungkasnya. (*)