Pertumbuhan ini didukung oleh sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan yang melonjak hingga 21,53 persen, seiring dengan musim panen dan peningkatan produksi pangan.
Di sisi eksternal, kinerja ekspor barang dan jasa juga mengalami kenaikan sebesar 8,84 persen, menandakan permintaan yang tetap stabil.
Pertumbuhan ekonomi yang menguat ini juga diiringi dengan meningkatnya kepercayaan investor.
Pada triwulan I 2026, realisasi investasi Jawa Tengah mencapai Rp23,02 triliun atau 23,23 persen dari target tahunan sebesar Rp99,09 triliun.
Komposisi investasi tersebut terdiri dari Penanaman Modal Asing (PMA) sebesar Rp12,98 triliun (56,40 persen) dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) sebesar Rp10,04 triliun (43,60 persen).
Investasi tersebut tidak hanya memperkuat kapasitas produksi, tetapi juga berdampak pada penyerapan tenaga kerja sebanyak 92.000 orang melalui 24.957 proyek.
Secara sektoral, investasi masih didominasi oleh industri pengolahan, termasuk sektor karet dan plastik, mesin dan elektronik, serta industri padat karya seperti tekstil dan alas kaki.
Sementara itu, dari sisi asal negara, investor utama berasal dari Singapura, Hong Kong, Tiongkok, Jepang, dan Korea Selatan, yang menunjukkan tingginya kepercayaan internasional terhadap daya saing Jawa Tengah.
Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, menyampaikan bahwa capaian pertumbuhan ekonomi sebesar 5,89 persen merupakan hasil kolaborasi berbagai pihak, mulai dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, dunia usaha, akademisi, hingga masyarakat.
“Alhamdulillah, pertumbuhan ini menunjukkan arah yang semakin baik. Ini bukan kerja satu pihak, tapi hasil gotong royong dan kolaborasi semua elemen,” ujarnya.