“Green economy dan ekonomi baru menjadi prioritas utama. Jepang lebih maju di bidang itu dan akan kita manfaatkan,” katanya.
Pemprov Jateng bahkan mendorong Rawa Pening menjadi pilot project kolaborasi Indonesia–Jepang, dengan dukungan hibah, alih teknologi, serta pengalaman pengelolaan dari Prefektur Shiga. Sebagai informasi, Shiga memiliki Danau Biwa, danau terbesar di Jepang, yang telah lama menjadi contoh pengelolaan danau berbasis konservasi dan partisipasi masyarakat.
Kepala Seksi Dinas Perdagangan, Perindustrian, Pariwisata, dan Tenaga Kerja Prefektur Shiga, Takeshi Tominaga, menilai terdapat kesamaan karakter antara kedua wilayah yang membuka peluang kerja sama jangka panjang.
“Dalam kerja sama internasional, salah satu kata kunci penting adalah lingkungan. Jawa Tengah dan Shiga memiliki kesamaan karena sama-sama memiliki danau,” ujarnya.
Ia memastikan bahwa kunjungan tersebut bukan sekadar agenda seremonial.
“Kami telah melihat langsung kondisi di lapangan dan mendapatkan sejumlah ide untuk ditindaklanjuti bersama,” katanya.
Sementara itu, Kepala DPMPTSP Jawa Tengah, Sakina Rosellasari, menjelaskan bahwa pembahasan kerja sama mencakup lima klaster utama. Di antaranya pengelolaan sampah dan limbah, konservasi daerah aliran sungai (DAS) dan danau, pengembangan ekonomi masyarakat berbasis lingkungan, infrastruktur serta pariwisata air, hingga peluang investasi di sektor lingkungan dan energi.
“Kedua belah pihak sepakat untuk melakukan tahap investigasi pendahuluan, pembentukan joint task force (satuan tugas gabungan), serta forum lanjutan sebagai tindak lanjut konkret,” kata Sakina.
Selain meninjau Rawa Pening, delegasi Prefektur Shiga juga dijadwalkan mengunjungi sejumlah kawasan ekonomi di Jawa Tengah untuk mengeksplorasi peluang investasi lainnya.