Berdasarkan kajian kasus di Semarang, beberapa kecamatan, termasuk Semarang Timur, tercatat menyumbang angka kekerasan domestik yang berdampak pada masalah mental-emosional anak, seperti kecemasan, depresi, hingga penarikan diri sosial.
Diskusi interaktif berjalan penuh antusiasme. Para ibu PKK aktif bertanya mengenai pola asuh yang tepat dan berbagi pengalaman pribadi.
“Saya baru sadar ternyata bentuk kekerasan itu bukan cuma memukul. Cara bicara keras atau mengabaikan anak juga termasuk kekerasan. Kegiatan ini penting sekali untuk kami sebagai orang tua,” ungkap salah satu peserta.
Peserta mengaku mendapatkan pemahaman baru mengenai bentuk kekerasan yang sering tidak disadari, serta pentingnya peran lingkungan dalam pencegahan.
Kegiatan ini dibimbing oleh Dr Yuliyanto Budi Setiawan SSos M.Si, dosen pengampu mata kuliah Komunikasi Gender dan Minoritas. Tim mahasiswa berharap kegiatan serupa dapat diperluas ke wilayah lain.
“Anak adalah harta tak ternilai bagi keluarga dan aset bangsa. Pencegahan kekerasan membutuhkan kolaborasi semua pihak, baik orang tua, lingkungan, maupun masyarakat,” tutup Vivit Kartika.
Kelurahan Rejomulyo dinilai memiliki potensi besar melalui struktur PKK, kegiatan kesehatan ibu dan anak, serta Forum Anak yang dapat dioptimalkan sebagai garda depan pencegahan kekerasan sekaligus penguatan kesehatan psikologis anak.