Dalam kegiatan tersebut, karya finalis dan alumni pemenang *IKM Fashion Award* ditampilkan dengan mengangkat unsur batik serta busana muslim.
“Batik jangan hanya kita lihat sebagai warisan budaya. Batik harus terus hidup, berkembang dan masuk ke gaya hidup masyarakat. Begitu juga fashion muslim. Ketika kreativitas bertemu dengan industri, maka di situlah muncul nilai tambah dan peluang ekonomi,” ujar Agustina.
Beragam produk dapat ditemui pengunjung di kawasan Eks Plaza Simpang Lima, mulai dari makanan kering, makanan basah, fesyen hingga aksesori. Salah seorang pengunjung, Armeta, mengaku tertarik dengan banyaknya pilihan produk yang ditawarkan.
“Di sini banyak UMKM Kota Semarang, ada makanan kering, makanan basah, terus ada *fashion* dan aksesori juga,” ujarnya.
Armeta menilai penyelenggaraan MTQ Nasional di Semarang menjadi momentum yang baik bagi pelaku UMKM untuk memperkenalkan produk kepada masyarakat dari berbagai daerah.
“Di tengah kota, pas banget ada MTQ Nasional. Pengunjung se-Indonesia bisa datang ke sini. Jadi bisa memperkenalkan produk unggulan dan kalau pengunjung suka, produk ini bisa makin terkenal di wilayah-wilayah nasional,” tambahnya.
Semarang Halal Fest menjadi salah satu pusat aktivitas UMKM selama pelaksanaan MTQ Nasional XXXI. Selain pameran dan bazar, kegiatan juga diisi lokakarya perajin, pelatihan barista, *talkshow* literasi, serta pertunjukan seni.
Agustina berharap promosi yang diperoleh pelaku usaha selama MTQ Nasional tidak berhenti ketika seluruh rangkaian kegiatan selesai. Menurutnya, peluang tersebut perlu dilanjutkan dengan menjaga kualitas produk sekaligus memperluas jaringan pemasaran.
“MTQ Nasional ini bukan hanya soal sukses penyelenggaraan. Kita ingin setelah acara selesai, UMKM kita tetap dikenal dan produk lokal kita punya pasar yang lebih luas,” pungkas Agustina. (*)