“Tempat pamerannya bersih dan setiap hari ada petugas yang membersihkan. Sejak pertama tiba dan melihat stand, kami juga langsung dilayani oleh perwakilan dinas perdagangan dan Kementerian Agama,” jelasnya.
Pelayanan tersebut, lanjut Lintje, membantu peserta dalam berkoordinasi selama mengikuti kegiatan. Dukungan panitia juga dinilai memberikan motivasi tambahan bagi peserta untuk mengenalkan produk unggulan daerah masing-masing.
Antusiasme serupa dirasakan Wiwit, pelaku UMKM dari Nusa Tenggara Barat. Ia membawa sejumlah produk tenun khas Lombok, seperti kain, sarung, baju dan celana. Produk-produk tersebut ditawarkan dengan harga mulai Rp200 ribu hingga Rp500 ribu.
“Alhamdulillah, antusiasme masyarakat di Semarang sangat tinggi. Banyak yang datang berkunjung dan berbelanja. Kami juga mendapat stand gratis serta fasilitas makan siang dan makan malam,” kata Wiwit.
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menilai kehadiran UMKM dari berbagai provinsi dalam pameran tersebut menjadi peluang untuk memperkenalkan produk daerah sekaligus mendorong aktivitas ekonomi antardaerah melalui momentum MTQ Nasional XXXI.
“Melalui MTQ, UMKM dari seluruh provinsi ikut menampilkan kearifan lokal masing-masing, baik makanan, kerajinan, fesyen, maupun produk lainnya,” ujarnya.
Pameran Serambi Nusantara diikuti sekitar 150 stan yang berasal dari pemerintah provinsi, kabupaten/kota, pelaku kuliner, kementerian, mitra hingga peserta mandiri.
Luthfi menyebut aktivitas perdagangan dalam pameran tersebut turut menghasilkan perputaran ekonomi yang cukup besar. Ia memperkirakan pendapatan peserta mencapai sekitar Rp500 juta setiap hari. (*)