Senada dengan itu, Ketua Yayasan Temen Tinemu Temenanan, Tri Winarti, menyatakan bahwa perempuan tidak bisa hanya berdiam diri di tengah tantangan ekonomi.
Menurutnya, perempuan—khususnya ibu rumah tangga—harus mampu mandiri secara ekonomi agar dapat menjadi penopang keluarga sekaligus pendidik generasi masa depan.
“Saya rasa perempuan tidak bisa biasa-biasa saja. Kita adalah penentu masa depan anak-anak. Seminar ini penting sebagai bekal dalam mengembangkan UMKM,” katanya.
Sementara itu, Mila Karmilah dari Pusat Studi Wanita Unissula menyoroti regulasi lembaga keuangan yang dinilai masih kurang berpihak kepada perempuan.
Salah satunya adalah syarat pengajuan bantuan modal yang masih mensyaratkan KTP suami.
Ia menilai regulasi tersebut perlu ditinjau ulang agar perempuan dapat mengakses dukungan finansial secara merata.
“Pemberdayaan ekonomi perempuan penting untuk membangun kepercayaan diri, kemandirian, dan kemampuan dalam menjalani kehidupan,” ungkap Mila.
Seminar ini menjadi momentum untuk memperkuat peran perempuan dalam sektor ekonomi sekaligus menggugah kepedulian berbagai pihak agar pemberdayaan perempuan tidak sekadar jargon, tetapi terwujud dalam dukungan nyata.