Kegiatan ini tidak hanya menjadi ruang belajar teknis perfilman, tetapi juga wadah bagi anak muda untuk berekspresi dengan aman dan inklusif. Iswar mengapresiasi para mentor dan komunitas film yang telah berperan aktif dalam membimbing peserta.
“Kita ingin anak-anak muda punya ruang untuk bereksperimen tanpa takut dihakimi. Dari ide-ide inilah akan muncul karya dan potensi ekonomi baru,” ujarnya.
Iswar juga menuturkan contoh nyata bagaimana kreativitas pelajar sineas mampu menciptakan dampak ekonomi. Ia menyinggung Pantai Tiram yang dulunya sepi, kini menjadi destinasi wisata populer setelah dijadikan lokasi syuting film pelajar.
“Dulu Pantai Tiram tidak ramai, tapi setelah dijadikan lokasi film, masyarakat mulai melihat potensinya. Sekarang setiap minggu bisa dikunjungi ribuan orang,” tuturnya.
Menurutnya, kisah tersebut membuktikan bahwa imajinasi anak muda dapat melahirkan perubahan nyata bagi masyarakat.
“Semua berawal dari kreativitas. Dari imajinasi lahir karya, dari karya muncul gerakan ekonomi. Pemkot Semarang akan terus mendukung langkah-langkah seperti ini,” tegas Iswar.
Workshop dan Mini Lab Lawang Sewu Short Film Festival 2025 menjadi langkah penting dalam membangun generasi kreatif Semarang. Melalui kegiatan ini, para sineas muda diharapkan dapat memperkuat jejaring, mengasah keterampilan, dan membawa semangat baru bagi perfilman lokal.