Tak hanya itu, layanan administrasi kependudukan juga diperluas, termasuk perekaman e-KTP bagi pelajar dan penyandang disabilitas dengan pendekatan jemput bola.
Sejarawan Universitas Diponegoro, Prof. Singgih Tri Sulistiyono, menilai usia hampir lima abad menjadikan Semarang sebagai kota dengan perjalanan sejarah panjang yang kompleks.
Ia menekankan pentingnya menjaga warisan sejarah sambil beradaptasi dengan tuntutan masa depan.
Agustina mengakui, upaya mewujudkan lima pilar tersebut masih membutuhkan proses panjang.
Namun, momentum HUT ke-479 ini diharapkan menjadi awal penguatan arah pembangunan kota yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
Dengan berbagai program yang menyentuh berbagai aspek kehidupan, Semarang menunjukkan bahwa perayaan hari jadi dapat dimanfaatkan sebagai sarana kebijakan publik yang berdampak langsung bagi masyarakat, bukan sekadar seremoni. (*)