Mekanismenya, jika calon siswa dari keluarga prasejahtera ini gagal menembus seleksi di SMP Negeri pada opsi pertama dan kedua, secara sistem mereka akan otomatis dialihkan ke opsi ketiga atau keempat, yaitu sekolah swasta gratis.
“Sekolah swasta gratis ini kan hanya untuk jalur afirmasi bagi anak tidak mampu dan kalau mereka tidak masuk pilihan 1 dan 2 di negeri maka otomatis akan langsung ke pilihan 3 atau 4 yakni sekolah swasta gratis,” jelasnya.
Mengingat periode SPMB tingkat SMP masih berjalan sampai hari Jumat (26/6/2026), Ahsan optimistis kuota tersebut akan terserap.
Masa pendaftaran ini memberi kesempatan bagi siswa kurang mampu untuk tetap mendapatkan hak pendidikannya secara gratis.
“Kami ingin memastikan anak-anak keluarga tidak mampu nanti bisa mendapatkan layanan pendidikan gratis. Masih ada waktu sampai Jumat kita lihat dinamikanya di sistem online dan itu akan otomatis pindah jika tidak dibterima di pilihan 1 dan selanjutnya,” tuturnya.
Sistem pengalihan otomatis ini juga sejalan dengan proses SPMB tingkat Sekolah Dasar (SD) yang telah tuntas minggu lalu.
Saat itu, siswa kurang mampu yang tersingkir dari SD negeri dapat langsung difasilitasi di SD swasta gratis.
Sebagai gambaran, Ahsan menyebutkan jumlah tamatan SD tahun 2026 di Kota Semarang berkisar di angka 21.027 anak.
Jumlah tersebut belum mencakup tamatan Madrasah Ibtidaiyah (MI) yang diestimasi mencapai 4.000 hingga 5.000 murid.
“Dari lulusan SD 21 ribuan, kuota SMP Negeri dan swasta gratis ada 15 ribuan jadi saya kira itu masih proporsional karena masih ada sekolah swasta berbayar yang juga siap menerima calon murid lulusan SD,” jelasnya.