Kepala Desa Purworejo, Rifqi Salafudin, mengungkapkan bahwa pada 2024 wilayah tersebut sempat terendam rob hingga 100 persen.
Meski telah dilakukan pengurukan pada 2025, saat air pasang datang area dermaga masih kerap terendam hingga ketinggian sekitar satu meter.
“Sekarang masih sekitar 50 persen. Kalau air pasang bisa tenggelam sampai satu meter,” jelasnya.
Kondisi tersebut berdampak langsung pada aktivitas ekonomi warga. Nelayan kesulitan menyalurkan hasil tangkapan ke Tempat Pelelangan Ikan karena kendaraan pengangkut terhambat oleh genangan air pasang.
Karena itu, warga menaruh harapan besar pada rencana pembangunan dermaga apung yang akan mulai disosialisasikan kepada masyarakat.
Namun demikian, Rifqi berharap pembangunan nantinya juga memperhatikan kondisi daratan di sekitar dermaga.
Menurutnya, teknologi dermaga apung harus tetap diimbangi dengan perlindungan akses darat agar kendaraan roda empat tetap dapat menjangkau lokasi.
"Kita mau tahu teknisnya secara detail dulu, harusnya itu kan mempertahankan daratan. Jangan sampai hanya apung saja yang dibangun tetapi daratannya semakin hilang," jelasnya.
Ia berharap rencana pembangunan tersebut benar-benar terealisasi dan mampu menjadi solusi nyata bagi warga pesisir yang selama ini terus menghadapi ancaman rob sekaligus menjaga sisa daratan desa yang semakin tergerus. (*)