Konten Semarang
Pendidikan

Tidak di Pinggir Jalan Lagi, UNDIP dan Unwahas Dorong Kualitas Rumput Laut Brebes

UNDIP dan Unwahas mengenalkan pengering hibrida surya-biomassa untuk meningkatkan kualitas dan nilai jual rumput laut UMKM Brebes.

Tidak di Pinggir Jalan Lagi, UNDIP dan Unwahas Dorong Kualitas Rumput Laut Brebes
Tidak di Pinggir Jalan Lagi, UNDIP dan Unwahas Dorong Kualitas Rumput Laut Brebes

KONTENSEMARANG.COM – Pelaku usaha rumput laut di Desa Randusanga Kulon, Kecamatan Brebes, Kabupaten Brebes, kini diperkenalkan dengan teknologi pengeringan dalam ruang tertutup. 

Inovasi tersebut dikembangkan tim dosen dan mahasiswa Universitas Diponegoro (UNDIP) bersama Universitas Wahid Hasyim Semarang (Unwahas) untuk meningkatkan mutu hasil olahan rumput laut.

Sistem pengeringan ini menggunakan kombinasi energi surya dan biomassa sebagai sumber panas. Teknologi tersebut dirancang untuk mempercepat proses pengeringan sekaligus menghasilkan rumput laut kering dengan kualitas yang lebih baik dan lebih konsisten.

Penerapan teknologi dilakukan melalui Program Hilirisasi Riset Prioritas dan Strategis–SINERGI, khususnya skema Hilirisasi Riset Berbasis Transfer Teknologi Terintegrasi.

Program dari Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) tersebut mendorong hasil riset perguruan tinggi agar dapat diterapkan secara langsung bersama mitra industri.

Dalam pelaksanaannya, UNDIP dan Unwahas menggandeng PT Mutiara Global Industry dengan pola co-funding, co-contribution, dan co-creation.

Kerja sama tersebut diarahkan untuk menjawab kendala produksi yang dihadapi pelaku usaha sekaligus meningkatkan nilai tambah rumput laut kering.

Randusanga Kulon dipilih sebagai lokasi penerapan karena memiliki potensi budi daya rumput laut yang cukup untuk dikembangkan melalui pemanfaatan teknologi.

Sebelum program ini berjalan, sebagian warga masih mengandalkan metode penjemuran terbuka di pinggir jalan tambak maupun jalan desa.

Metode tersebut membuat proses pengeringan sangat dipengaruhi kondisi cuaca. Selain itu, rumput laut yang dijemur di ruang terbuka lebih rentan terkena debu, kotoran, hewan, dan berbagai sumber kontaminasi dari lingkungan sekitar.

Melalui program SINERGI, proses penjemuran dialihkan ke bangunan tertutup yang dirancang agar kondisi pengeringan dapat dikontrol dengan lebih baik.

Energi surya digunakan sebagai sumber panas utama, sedangkan biomassa berfungsi sebagai sumber panas tambahan.

Kombinasi dua sumber energi tersebut memungkinkan proses pengeringan tetap berjalan ketika paparan sinar matahari menurun atau cuaca tidak mendukung. Dengan demikian, ketergantungan pelaku usaha terhadap kondisi cuaca dapat dikurangi.

Sistem sirkulasi udara di ruang pengering dibantu blower dan fan exhaust untuk mendistribusikan udara panas secara merata.

Rumput laut diletakkan pada rak khusus sehingga tidak bersentuhan langsung dengan tanah maupun lantai bangunan.

Ketua Tim SINERGI dari UNDIP, Prof. Dr. Moh. Djaeni, S.T., M.T., menjelaskan teknologi pengeringan tertutup berbasis energi hibrida tersebut merupakan hasil kolaborasi hilirisasi riset yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat.

Teknologi itu ditargetkan mampu memangkas waktu pengeringan dari sebelumnya sekitar 18 jam menjadi delapan jam.

Selain mempercepat produksi, sistem tersebut juga dirancang untuk menjaga kebersihan dan menghasilkan mutu rumput laut kering yang lebih seragam.

Penggunaan bangunan tertutup turut memberikan perlindungan terhadap hujan, debu, hewan, dan sumber pencemar lainnya.

Sementara dukungan energi biomassa membuat proses pengeringan tidak sepenuhnya bergantung pada matahari.

Program SINERGI melibatkan tim lintas bidang dari UNDIP dan Unwahas. Tim UNDIP dipimpin Prof. Dr. Moh. Djaeni, S.T., M.T., bersama Prof. Aji Prasetyaningrum, S.T., M.Si., Prof. Dr. Andri Cahyo Kumoro, S.T., M.T., dari Teknik Kimia, serta Dr. Agus Suherman, S.Pi., M.Si., dari FPIK UNDIP.

Sementara dari Unwahas terdapat Dr. Laeli Kurniasari, S.T., M.T., dan Agung Nugroho, S.T., M.T., dengan latar keilmuan Teknik Kimia dan Teknik Mesin. Kegiatan tersebut juga melibatkan mahasiswa dari jenjang Sarjana, Magister, hingga Doktor Teknik Kimia.

Keterlibatan mahasiswa menjadi bagian dari pembelajaran berbasis persoalan di lapangan. Mereka turut mendampingi penggunaan teknologi, mengamati proses pengeringan, serta berkomunikasi langsung dengan pelaku usaha.

Di sisi lain, masyarakat mendapatkan pendampingan agar dapat mengoperasikan dan memanfaatkan teknologi tersebut sesuai dengan kebutuhan produksi sehari-hari.

Kolaborasi antara perguruan tinggi, industri, dan masyarakat melalui SINERGI diharapkan mampu menunjukkan bahwa hasil penelitian dapat diterapkan untuk menyelesaikan persoalan nyata di tingkat usaha.

Teknologi yang dihasilkan tidak berhenti sebagai purwarupa, tetapi diarahkan agar dapat dimanfaatkan dan dikembangkan secara berkelanjutan.

Penerapan pengering hibrida berbasis surya dan biomassa di Randusanga Kulon diharapkan memperkuat pengolahan pascapanen rumput laut.

Produk yang lebih bersih, kering merata, dan memiliki mutu konsisten berpeluang meningkatkan daya saing serta nilai jual komoditas tersebut.

Dengan teknologi ini, aktivitas pengeringan rumput laut warga tidak lagi harus dilakukan di pinggir jalan.

Sinergi perguruan tinggi, industri, pemerintah, mahasiswa, dan masyarakat diharapkan mampu menghadirkan teknologi yang memberikan manfaat langsung bagi pengembangan ekonomi masyarakat pesisir. (*)

Baca Juga Otomatis

Rekomendasi berdasarkan kategori dan tag berita ini.

Menampilkan semua halaman artikel.

Artikel Selanjutnya

LLDIKTI VI Dorong Lulusan USM Tingkatkan Kompetensi Hadapi Dunia Kerja
Pendidikan • 27 Agustus 2026

LLDIKTI VI Dorong Lulusan USM Tingkatkan Kompetensi Hadapi Dunia Kerja

Rekomendasi Redaksi