Pengoperasian fasilitas ini juga diproyeksikan dapat menekan emisi karbon sekitar 521 ton karbon dioksida (CO₂) per tahun. Dalam masa kerja sama selama 25 tahun, total pengurangan emisi diperkirakan mencapai 12.077 ton CO₂.
Direktur Utama RS Mardi Rahayu, Pujianto, menjelaskan bahwa pengelolaan energi merupakan bagian penting dalam menjaga keberlangsungan pelayanan kesehatan.
Dengan aktivitas operasional yang berjalan sepanjang hari, rumah sakit perlu memastikan penggunaan energi berlangsung secara efisien tanpa mengurangi mutu layanan bagi pasien.
“Pengelolaan energi menjadi bagian penting dari operasional rumah sakit yang memberikan pelayanan selama 24 jam. Pemanfaatan PLTS Atap merupakan langkah yang kami tempuh untuk mendukung efisiensi energi sekaligus mendorong penerapan konsep green hospital. Kami berharap inisiatif ini dapat memberikan manfaat bagi operasional rumah sakit serta mendukung upaya menjaga kelestarian lingkungan,” ujar Pujianto.
Penerapan PLTS Atap juga memperkuat berbagai langkah ramah lingkungan yang telah dilakukan RS Mardi Rahayu.
Inisiatif tersebut mencakup penggunaan lampu LED untuk penerangan, pemanfaatan air daur ulang untuk kebutuhan flushing, serta penyediaan fasilitas pengisian daya kendaraan listrik atau electric vehicle charging station.
Ke depan, RS Mardi Rahayu membuka peluang untuk memperluas pemanfaatan energi surya melalui pembangunan PLTS Atap tahap kedua.
Pengembangan tersebut direncanakan mencakup gedung parkir dan gedung rawat inap Betania yang saat ini masih dalam tahap pembangunan. Realisasi rencana ini akan mempertimbangkan kesiapan teknis serta kesepakatan seluruh pihak yang terlibat.
Bagi PLN Icon Plus, pengembangan PLTS Atap melalui ICONGREEN menjadi bagian dari upaya memperluas pemanfaatan energi hijau di berbagai sektor.
Melalui kerja sama dengan mitra serta skema layanan yang disesuaikan dengan kebutuhan pelanggan, perusahaan mendorong penggunaan energi terbarukan untuk mendukung efisiensi dan keberlanjutan operasional, termasuk di fasilitas pelayanan publik. (*)