KONTENSEMARANG.COM – Penguatan dakwah Islam yang moderat menjadi perhatian Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN Walisongo Semarang melalui seminar internasional bertajuk Preaching Moderate Islam in Southeast Asia and the Middle East for Global Peace.
Forum yang menghadirkan akademisi dari Mesir dan Malaysia ini diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional 2026.
Kegiatan tersebut diikuti sekitar 250 mahasiswa dan berlangsung di Theater Teatrikal Lantai 4 Gedung KH Shaleh Darat UIN Walisongo Semarang.
Seminar ini menjadi ruang diskusi untuk memperluas pemahaman mengenai peran dakwah Islam dalam membangun perdamaian di tengah keberagaman masyarakat dunia.
Seminar dibuka oleh Rektor UIN Walisongo, Prof. Dr. H. Musahadi, M.Ag., dengan menghadirkan dua pembicara internasional, yakni Prof. Dr. Sholeh Mahmoud Al Bajuri dari Al-Azhar University, Mesir, serta Dekan Academy of Contemporary Islamic Studies Universiti Teknologi MARA (UiTM) Malaysia, Prof. Dr. S. Salahudin bin Suryono.
Dekan FDK UIN Walisongo, Dr. H. Nasihun Amin, M.Ag., menilai pendekatan dakwah Islam moderat semakin dibutuhkan untuk menghadapi berbagai persoalan global, mulai dari konflik hingga polarisasi sosial dan masalah kemanusiaan.
Menurutnya, ajaran Islam perlu disampaikan dengan cara yang mampu merangkul berbagai kalangan dan mendorong terciptanya kehidupan yang damai.
“Islam moderat bukan Islam yang garang. Islam itu merangkul, bukan memukul; Islam itu memeluk, bukan menendang,” tegas Nasihun, dalam keterangannya, Jumat (23/10/2026).
Ia menambahkan, penguatan moderasi beragama perlu terus dilakukan, terutama kepada generasi muda. Dakwah seharusnya menjadi sarana mempertemukan perbedaan melalui dialog yang sehat, bukan justru memperbesar perselisihan di tengah masyarakat.
Rektor UIN Walisongo, Musahadi, menyampaikan bahwa peringatan Hari Santri Nasional dapat dimanfaatkan untuk memperkokoh akhlakul karimah, moderasi beragama, serta penghargaan terhadap nilai-nilai kemanusiaan.
Prinsip tersebut dinilai penting dalam membentuk generasi yang mampu menyikapi perbedaan secara bijaksana.
Kehadiran akademisi dari Mesir dan Malaysia juga memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mempelajari perspektif dakwah dari lingkungan akademik internasional.
Pertukaran pengetahuan ini diharapkan memperluas wawasan mahasiswa dalam mengembangkan dakwah yang inklusif, toleran, dan menghormati keberagaman.
Dalam pemaparannya, Prof. Dr. Sholeh Mahmoud Al Bajuri dari Al-Azhar University menyoroti pentingnya memahami Al-Qur’an secara menyeluruh. Ia menjelaskan bahwa penafsiran ayat perlu mempertimbangkan asbabun nuzul, pandangan para ulama, serta konteks penerapannya.
Pendalaman terhadap sumber ajaran Islam tersebut diperlukan agar pemahaman keagamaan tidak keliru dan tidak dimanfaatkan untuk membenarkan tindakan ekstrem.
Dengan landasan ilmu yang kuat, dakwah diharapkan dapat menghadirkan pesan keagamaan yang menyejukkan dan membawa kemaslahatan.
Akademisi Malaysia, Prof. Dr. S. Salahudin bin Suryono, menekankan bahwa penyampaian dakwah perlu mengutamakan kesantunan dalam berbahasa. Menurutnya, pesan keagamaan harus mendorong toleransi dan mempererat hubungan antarmasyarakat yang memiliki latar belakang berbeda.
Ia turut mengajak mahasiswa memanfaatkan media sosial secara bijak dan bertanggung jawab sebagai sarana menyebarkan nilai-nilai Islam.
Platform digital dinilai memiliki jangkauan luas sehingga dapat menjadi ruang strategis bagi generasi muda untuk menyampaikan pesan keagamaan kepada masyarakat.
Karena itu, konten dakwah di media sosial perlu mengedepankan sikap toleran, pesan yang menyejukkan, serta semangat perdamaian.
Pemanfaatan teknologi digital diharapkan tidak hanya memperluas jangkauan dakwah, tetapi juga membantu membangun komunikasi yang sehat di tengah masyarakat.
Melalui seminar internasional ini, FDK UIN Walisongo berharap dapat mencetak calon pendakwah yang memiliki pemahaman agama mendalam sekaligus wawasan global.
Para mahasiswa diharapkan mampu menerapkan nilai akhlak, toleransi, dan moderasi dalam kehidupan sehari-hari serta menyebarkan pesan perdamaian, baik secara langsung maupun melalui media digital. (*)