Prinsip tersebut dinilai penting dalam membentuk generasi yang mampu menyikapi perbedaan secara bijaksana.
Kehadiran akademisi dari Mesir dan Malaysia juga memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mempelajari perspektif dakwah dari lingkungan akademik internasional.
Pertukaran pengetahuan ini diharapkan memperluas wawasan mahasiswa dalam mengembangkan dakwah yang inklusif, toleran, dan menghormati keberagaman.
Dalam pemaparannya, Prof. Dr. Sholeh Mahmoud Al Bajuri dari Al-Azhar University menyoroti pentingnya memahami Al-Qur’an secara menyeluruh. Ia menjelaskan bahwa penafsiran ayat perlu mempertimbangkan asbabun nuzul, pandangan para ulama, serta konteks penerapannya.
Pendalaman terhadap sumber ajaran Islam tersebut diperlukan agar pemahaman keagamaan tidak keliru dan tidak dimanfaatkan untuk membenarkan tindakan ekstrem.
Dengan landasan ilmu yang kuat, dakwah diharapkan dapat menghadirkan pesan keagamaan yang menyejukkan dan membawa kemaslahatan.
Akademisi Malaysia, Prof. Dr. S. Salahudin bin Suryono, menekankan bahwa penyampaian dakwah perlu mengutamakan kesantunan dalam berbahasa. Menurutnya, pesan keagamaan harus mendorong toleransi dan mempererat hubungan antarmasyarakat yang memiliki latar belakang berbeda.
Ia turut mengajak mahasiswa memanfaatkan media sosial secara bijak dan bertanggung jawab sebagai sarana menyebarkan nilai-nilai Islam.
Platform digital dinilai memiliki jangkauan luas sehingga dapat menjadi ruang strategis bagi generasi muda untuk menyampaikan pesan keagamaan kepada masyarakat.
Karena itu, konten dakwah di media sosial perlu mengedepankan sikap toleran, pesan yang menyejukkan, serta semangat perdamaian.