Khusus bagi pendonor yang telah berdonor sebanyak 75 kali, total darah yang disumbangkan mencapai sekitar 37,5 liter untuk setiap orang.
“Ini luar biasa. Tanda jasa yang kami berikan tidak seberapa dibandingkan dengan pengorbanan yang tulus dari Bapak-Ibu sekalian,” ujarnya.
Salah seorang pendonor ke-75 kali asal Kabupaten Magelang, Agustian, mengaku mulai mendonorkan darah sejak berusia sekitar 16-17 tahun.
Keinginannya untuk berdonor muncul karena ingin membantu orang lain melalui sesuatu yang dapat ia berikan.
“Kalau mau membantu orang lain dengan uang atau materi mungkin belum bisa. Tetapi kalau darah, insyaallah bisa,” ujarnya.
Hal serupa disampaikan Saparwanti (67), pendonor asal Bulukerto, Wonogiri. Mantan guru SD tersebut mengaku telah mendonorkan darah sebanyak 52 kali.
Bagi Saparwanti, donor darah merupakan bentuk kepedulian sosial yang dapat dilakukan untuk membantu masyarakat yang sedang membutuhkan.
“Saya merasa senang juga karena kegiatan sosial kita dihargai,” ujar mantan guru SD tersebut.
Penguatan budaya donor darah sekaligus peningkatan kualitas pelayanan menjadi bagian dari upaya memperkuat sektor kesehatan di Jawa Tengah. Peran masyarakat bersama PMI Jawa Tengah diharapkan terus mendukung ketersediaan darah sekaligus pelayanan kesehatan bagi masyarakat. (*)