Langkah Pemprov Jateng dan Bank Indonesia kendalikan inflasi tersebut dilakukan melalui pendekatan yang melibatkan berbagai pihak, mulai dari sektor pertanian hingga distribusi dan penjualan bahan pangan kepada masyarakat.
Selain mengendalikan kenaikan harga, program ini juga diarahkan untuk mengantisipasi dampak fenomena El Nino yang berpotensi menimbulkan kondisi kekeringan.
Dalam kegiatan tersebut, pemerintah menyalurkan sejumlah bantuan, antara lain beras, sarana perpipaan, serta rumah burung hantu bagi petani.
Bantuan tersebut merupakan bagian dari upaya mempertahankan produktivitas pangan di Jawa Tengah di tengah tantangan perubahan kondisi cuaca.
Luthfi juga meminta agar pola tanam petani disesuaikan dengan program yang telah disiapkan Dinas Pertanian dan Peternakan Jawa Tengah.
"Pola tanam petani juga disesuaikan dengan program dari Distannak. Karena El Nino inilah maka kita harus mempunyai ide kreatif dalam rangka pengendalian bahan pokok penting di wilayah kita dari hulu-hilir," ungkap Luthfi.
Produksi Padi Jateng Diperkirakan Capai 8,4 Juta Ton
Di tengah upaya pengendalian inflasi dan antisipasi kekeringan, Jawa Tengah memiliki catatan produksi sejumlah komoditas pangan yang menjadi perhatian pemerintah.
Berdasarkan data periode Januari hingga Oktober 2026, produksi padi di Jawa Tengah diperkirakan mencapai 8,4 juta ton gabah kering giling (GKG).
Jumlah tersebut setara dengan sekitar 4,9 juta ton beras.
Sementara itu, produksi cabai di Jawa Tengah tercatat sekitar 404,91 ribu ton, sedangkan bawang merah mencapai 408,76 ribu ton.