Pelaksanaan normalisasi juga mendapat dukungan dari Bank Indonesia, Pemerintah Kabupaten Demak, Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi Jawa Tengah, Dinas PUPR Provinsi Jawa Tengah, serta Pemerintah Desa Klitih dan Desa Dukun.
"Ini kolaborasi antara Pemprov Jateng, Pemkab Demak, BI, sampai Pemerintah Desa, bareng-bareng," katanya.
Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi Jawa Tengah Defransisco Dasilva Tavares menjelaskan, normalisasi dilakukan berdasarkan hasil pemantauan dan laporan yang disampaikan petugas lapangan bersama masyarakat.
Upaya tersebut diharapkan dapat mengoptimalkan potensi pertanian di Desa Klitih dan Desa Dukun yang mencapai sekitar 450 hektare.
Menurutnya, kelancaran saluran irigasi setidaknya dapat mendukung petani untuk melakukan dua kali penanaman dalam setahun.
Dengan pengelolaan air yang lebih baik, produktivitas pertanian di wilayah tersebut diharapkan tetap terjaga di tengah tantangan perubahan kondisi iklim.
"Ini kerja bersama agar kita bisa menanam. Paling tidak 5-6 ton per hektare, tinggal dikalikan 450 hektare. Jadi bagaimana caranya kita tetap semangat di tengah kondisi iklim seperti ini. Tahun lalu kita lakukan pengerukan di Sungai Pelayaran dan hasilnya bagus," katanya.
Kepala Desa Klitih Firdos mengatakan, saluran tersebut telah lama digunakan sebagai jalur irigasi untuk mengalirkan air dari Sungai Gemboyo.
Namun, aliran air terganggu akibat endapan lumpur yang menutup saluran setelah perbaikan pintu air dilakukan. Ia menduga sedimentasi terbawa dan mengendap karena proses perbaikan sebelumnya belum berjalan maksimal.
"Adanya bantuan normalisasi dari Pak Gubernur ini diharapkan air bisa mengalir, sehingga masa tanam pertama dan kedua tidak masalah,” kata dia.