Masyarakat juga perlu mengenali sejumlah tanda yang dapat muncul akibat paparan asap, di antaranya mata atau tenggorokan terasa perih, batuk, sakit kepala, mengi, hingga kesulitan bernapas.
Apabila muncul sesak berat, nyeri di bagian dada, atau penurunan kesadaran, warga diminta segera memperoleh pertolongan di fasilitas kesehatan terdekat.
Pemkot Semarang saat ini menjalankan empat fokus penanganan, yakni mengendalikan kebakaran, melakukan pemantauan kualitas udara, memberikan perlindungan terhadap kesehatan warga, serta memastikan informasi mengenai kondisi terkini dapat diterima masyarakat secara cepat dan akurat.
Kebakaran TPA Jatibarang diketahui terjadi pada Rabu (30/9). Laporan diterima Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Semarang sekitar pukul 18.00 WIB.
Sekitar 10 menit setelah laporan diterima, petugas tiba dan menemukan api membakar area Zona 1, Zona 2, dan Zona 3 dengan luas sementara sekitar 10 hektare.
Sebanyak 50 personel Damkar dikerahkan untuk menangani kejadian tersebut. Operasi pemadaman didukung tujuh armada pemadam, dua armada rescue, satu armada storing, satu kendaraan operasional Strada, serta satu armada operasional Grand Max.
Penanganan kebakaran mencakup sejumlah tahapan, mulai dari membatasi pergerakan api, membuat sekat, mendinginkan timbunan, hingga memantau kondisi udara di sekitar lokasi.
Petugas juga memanfaatkan alat berat untuk membuka dan mengurai tumpukan sampah yang kemudian disertai penyemprotan air serta proses pendinginan.
“Api memang harus kita kendalikan secepat mungkin, tetapi pekerjaan tidak berhenti ketika kobaran api mengecil. Kita harus memastikan tidak ada titik api dan bara yang tersisa di dalam timbunan. Karena itu, penguraian sampah dengan alat berat sambil dilakukan penyemprotan dan pendinginan terus kita lakukan,” ujar Agustina.
Untuk memenuhi kebutuhan air selama proses pemadaman, sejumlah perangkat daerah ikut memberikan dukungan.