Konten Semarang
Semarang

Agustina Ajak Warga Semarang Lebih Menghargai Ibu Lewat Film Jangan Buang Ibu

Gala premiere film Jangan Buang Ibu di Semarang menghadirkan pesan menyentuh tentang pengorbanan ibu dan pentingnya keluarga

×
Gala premiere film Jangan Buang Ibu di Semarang menghadirkan pesan menyentuh tentang pengorbanan ibu dan pentingnya keluarga
Gala premiere film Jangan Buang Ibu di Semarang menghadirkan pesan menyentuh tentang pengorbanan ibu dan pentingnya keluarga

KONTENSEMARANG.COM – Suasana penuh haru mewarnai gala premiere film Jangan Buang Ibu yang digelar di Studio XXI Paragon Semarang, Rabu (3/6). Kegiatan nonton bareng menjelang penayangan nasional film tersebut pada 25 Juni 2026 itu menjadi ruang refleksi tentang arti pengorbanan, cinta, dan perhatian seorang ibu kepada anak-anaknya.

Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng, yang hadir dalam acara tersebut mengajak masyarakat untuk lebih menghargai keberadaan orang tua, khususnya ibu, yang selama ini menjadi sosok penting dalam perjalanan hidup setiap anak.

Menurutnya, kehidupan modern yang serba cepat sering kali membuat banyak orang larut dalam kesibukan hingga tanpa sadar mengabaikan hubungan dengan keluarga.

"Kadang kita terlalu sibuk mengejar masa depan hingga lupa kepada orang yang sejak awal selalu memperjuangkan masa depan kita. Ibu tidak pernah berhenti mencintai, mendoakan, dan menunggu anak-anaknya pulang. Film ini mengingatkan kita untuk tidak terlambat menunjukkan kasih sayang kepada orang tua," ujar Agustina.

Film yang disutradarai Hadrah Daeng Ratu tersebut mengisahkan perjalanan hidup Ristiana, seorang ibu tunggal yang mengabdikan dirinya untuk membesarkan ketiga anaknya. Seiring waktu, ketika anak-anaknya berhasil meraih kesuksesan, hubungan keluarga perlahan merenggang akibat kesibukan dan ego yang membuat perhatian kepada sang ibu semakin berkurang.

Bagi Agustina, cerita yang diangkat dalam film tersebut sangat dekat dengan realitas kehidupan saat ini. Banyak orang tua yang sesungguhnya lebih membutuhkan perhatian dan kehadiran anak-anaknya dibandingkan bantuan materi semata.

"Di zaman ketika kita bisa menghubungi siapa pun dalam hitungan detik, justru jangan sampai kita kehilangan kedekatan dengan orang-orang yang paling kita cintai. Kehadiran dan perhatian sering kali menjadi hadiah terbesar bagi orang tua," katanya.

Acara gala premiere tersebut turut dihadiri unsur Forkopimda, tokoh masyarakat, pelaku usaha, komunitas sosial, serta para pemain film. Kehadiran berbagai elemen masyarakat menunjukkan bahwa karya perfilman tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga mampu membangun empati dan memperkuat nilai-nilai kemanusiaan.

Salah satu pemeran utama film, Reval Hady, berharap pesan yang disampaikan melalui film tersebut dapat menyentuh hati para penonton dan menjadi pengingat akan besarnya jasa seorang ibu.

"Film ini adalah pengingat tentang perjuangan ibu yang sering kita lupakan. Semoga pesan yang dibawa bisa sampai ke hati setiap orang yang menontonnya," ungkap Reval.

Selain menyampaikan pesan keluarga, gala premiere ini juga menjadi gambaran berkembangnya industri kreatif di Kota Semarang. Kota ini dinilai semakin terbuka sebagai ruang berkarya bagi para sineas untuk menghadirkan film-film yang dekat dengan kehidupan masyarakat.

Agustina menegaskan bahwa Pemerintah Kota Semarang berkomitmen mendukung pertumbuhan ekosistem kreatif, termasuk industri perfilman yang memiliki peran penting dalam menyebarkan nilai-nilai positif sekaligus memperkenalkan potensi daerah kepada masyarakat luas.

"Semarang tidak hanya ingin dikenal sebagai kota yang maju secara fisik, tetapi juga sebagai kota yang memberi ruang bagi lahirnya karya-karya kreatif yang menginspirasi. Kami ingin Semarang menjadi rumah yang nyaman bagi para sineas untuk bercerita, berkarya, dan menyampaikan pesan-pesan positif kepada masyarakat," tegasnya.

Menurut Agustina, pembangunan kota tidak hanya diukur dari kemajuan infrastruktur maupun pertumbuhan ekonomi. Kekuatan keluarga, budaya, dan kepedulian sosial juga menjadi fondasi penting dalam membangun peradaban yang lebih baik.

"Ketahanan kota berawal dari ketahanan keluarga. Dan dalam keluarga, ibu sering menjadi fondasi utama yang menjaga kasih sayang, pendidikan karakter, dan nilai-nilai kehidupan. Karena itu, memuliakan ibu sesungguhnya adalah bagian dari membangun peradaban," ujarnya.

Menutup kegiatan tersebut, Agustina mengajak masyarakat untuk menjadikan pesan dalam film sebagai pengingat dalam kehidupan sehari-hari dengan meluangkan waktu untuk menghubungi, mengunjungi, maupun mendengarkan cerita orang tua.

"Semoga ketika meninggalkan bioskop malam ini, kita tidak hanya membawa kesan tentang filmnya. Kita membawa pulang kesadaran bahwa kasih sayang orang tua tidak pernah habis. Dan sudah sepatutnya kita membalasnya dengan cinta, perhatian, dan kehadiran yang tulus," pungkasnya.

Menampilkan semua halaman artikel.