“Forum ini ingin mengangkat kesadaran anak muda Semarang terhadap lingkungan, agar gaungnya terdengar hingga ke luar negeri,” ungkap Widhie.
Dengan tema Trailblaze the Green Shift, forum ini menghadirkan mahasiswa dari lebih dari 10 perguruan tinggi di Semarang, termasuk UNNES, UNISSULA, UDINUS, UNIMUS, SCU, UPGRIS, UIN Walisongo, USM, dan Akpol.
Mereka terlibat dalam dialog mendalam tentang solusi lokal untuk isu global, seperti pulau panas perkotaan (*urban heat island*), limbah plastik, dan krisis air bersih.
Salah satu peserta, Afiana—co-founder komunitas Semarang Wegah Nyampah (SWN)—membagikan pengalaman kampanyenya dalam mengurangi sampah.
Sejak 2019, komunitas SWN aktif mengedukasi publik untuk menerapkan gaya hidup minim sampah.
“Kami mengangkat pesan kunci ‘refuse first before reuse and recycle’. Karena menolak dari awal lebih berdampak daripada sekadar mendaur ulang,” jelas Ana, sapaan akrabnya.
Ia juga menekankan pentingnya *decluttering* atau memilah sampah sebagai langkah sederhana namun signifikan dalam mengurangi volume sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
“Suara anak muda itu segar, kreatif, dan bisa menyuarakan perubahan lebih luas lewat media sosial. Harapannya, anak muda bisa lebih peka, peduli, dan berani ambil aksi nyata demi lingkungan,” pungkas Ana.