Di tengah mediasi yang alot, Aniceto menyebut Disdag sebenarnya sudah beritikad baik dengan membantu memperbaiki televisi milik Edy senilai Rp2 juta.
Terkait lontaran kalimat ancaman berbahasa Jawa yang menjadi sorotan, Aniceto tidak menampiknya. Akan tetapi, ia berdalih bahwa ucapan tersebut hanyalah celetukan spontan yang lumrah terjadi dalam percakapan antara dua orang teman akrab.
“Saat itu mungkin karena kebiasaan atau spontan saya ngomong, ‘kowe ngadek tak tebas‘ (kamu berdiri saya tebas). Yang jadi persoalan, pada saat itu Pak Edi enggak ada masalah karena teman baik,” jelasnya.
Ia pun sangat menyayangkan tindakan Edy yang diam-diam merekam celetukan tersebut dan menyebarkannya dengan narasi yang keluar dari konteks sebenarnya.
“Dan yang luar biasa dia rekam pada saat kita ngomong. Habis ini disebarkan ke mana-mana seolah-olah kita mau bunuh dia,” tandasnya. (*)