Sejak diluncurkan pada Februari 2026, program tersebut dinilai efektif dalam menekan penyebaran penyakit hewan endemik di Jawa Tengah.
Hingga pertengahan April 2016, tercatat hanya ada 10 kasus penyakit mulut dan kuku (PMK) pada ternak.
"Itu sudah terdeteksi dan sudah diobati," kata Ahmad Luthfi.
Kepala Distanak Provinsi Jawa Tengah Defransisco Dasilva Tavares menyampaikan bahwa program Healing juga berfungsi menindaklanjuti laporan serta deteksi dini di lapangan, serupa dengan sistem spot stop milik Kementerian Pertanian.
Selain itu, program ini turut memperkuat upaya pencegahan masuknya penyakit dari luar daerah.
"Di perbatasan kita punya pos lalu lintas ternak. Ini untuk mengontrol agar hewan yang masuk ke Jawa Tengah tidak membawa penyakit," katanya.
Sementara itu, Agus Kiswoyo, peternak sapi dan kambing asal Desa Krikilan, mengaku terbantu dengan adanya program tersebut.
Ia menilai perhatian pemerintah sangat berarti bagi para peternak, khususnya di wilayahnya.
"Tahun 2024 dan 2025 kemarin tertinggi untuk PMK di sini. Hampir sisa 50% saja hewan ternak karena penyakit itu. Saya berharap program ini bisa lebih sering dilakukan," kata peternak yang berpindah dari penggemukan sapi menjadi pembibitan sapi sejak terserang PMK beberapa tahun lalu. (*)