"Baju ini simbolnya hanya satu, tapi kami membuatkan banyak untuk menggantikan baju wasiat yang selama ini dipakai teman-teman pemain wayang orang. Baju yang sangat tua nantinya masuk ke museum supaya nanti menjadi pelajaran bagi generasi berikutnya."
Perhatian Pemkot Semarang tidak berhenti pada kostum. Gedung pertunjukan di TBRS telah direnovasi beserta peremajaan alat pendukungnya.
Pemerintah juga menjamin kesejahteraan para seniman lewat fasilitas pemeriksaan kesehatan rutin serta dukungan pendidikan untuk anak-anak mereka.
Ke depan, pengembangan Ngesti Pandowo merupakan pilar dari strategi besar untuk menyulap TBRS menjadi rumah bagi segala jenis kesenian tradisi seperti wayang orang, macapat, dan geguritan yang nantinya akan terintegrasi ke dalam kalender wisata resmi Kota Semarang.
Dengan strategi ini, budaya lokal tidak sekadar dirayakan dalam seremoni, melainkan sungguh-sungguh menjadi motor penggerak ekosistem pariwisata dan seni daerah. (*)