Selain memberikan manfaat ekonomi, pemerintah juga memperkirakan program ini akan berdampak terhadap sektor ketenagakerjaan. Implementasi B50 diproyeksikan mampu mendukung penyerapan tenaga kerja hingga 2,2 juta orang, khususnya di sektor perkebunan kelapa sawit, industri pengolahan, serta berbagai sektor pendukung lainnya.
Pada aspek lingkungan, penggunaan biodiesel dengan kandungan yang lebih tinggi ditargetkan mampu menurunkan emisi gas rumah kaca secara signifikan. Pemerintah memperkirakan pengurangan emisi dapat mencapai 46,72 juta ton CO₂ sepanjang tahun 2026 sebagai bagian dari dampak ekonomi dan lingkungan program B50.
Program biodiesel sendiri telah lama menjadi salah satu strategi pemerintah dalam meningkatkan pemanfaatan energi baru terbarukan sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar minyak.
Data pemerintah menunjukkan bahwa realisasi penyaluran B40 pada 2025 mencapai 14,94 juta kiloliter atau sekitar 95,67 persen dari target yang telah ditetapkan. Capaian tersebut menjadi salah satu dasar bagi pemerintah untuk melanjutkan peningkatan campuran biodiesel ke level yang lebih tinggi.
Dengan peluncuran B50 pada awal Juli 2026, Indonesia diproyeksikan menjadi salah satu negara dengan tingkat campuran biodiesel tertinggi di dunia. Langkah tersebut sekaligus memperkuat posisi minyak sawit dalam bauran energi nasional serta mendukung pengembangan Energi Terbarukan yang berkelanjutan di masa mendatang.