"Anak saya keluar, kemudian didorong disuruh keluar. Pulanglah mereka. Eh nggak ada setengah jam kembali lagi (penagih) bawa temennya lagi," bebernya.
Tak lama berselang, dua pria tadi kembali sambil membawa dua rekan lainnya. Adu mulut pun kembali terjadi dan suasana makin memanas.
"Datang nagih lagi. Saya bilang, lho Mas, tadi kan saya sudah bilang Ibu belum pulang. Mbok besok, kan tiap hari juga ketemu. Tapi dia nya (penagih) enggak mau, malah marah-marah. Malah ngatain saya kasar," katanya.
Makian kasar tersebut memancing amarah A, yang langsung mendorong penagih keluar. Naasnya, Eko justru diserang dari arah belakang oleh komplotan itu.
"Orang satunya lari, dari belakang mukul ke saya pakai helm. Anak saya gak terima, didorong. Anak saya dipukul, habis dipukul natap tembok, ditendang, temboknya rubuh kena anak saya," bebernya.
Usai insiden tersebut, keempat pelaku melarikan diri. Eko beserta keluarga mencoba mengejar sambil berteriak maling, hingga warga setempat akhirnya sukses membekuk satu pelaku.
"Saya kejar itu supaya mereka bertanggungjawab. Nah ketangkap disana (warga) satu orang ketangkap. Terus, tiga temannya (penagih) kembali dan warga yang nangkap malah dipukuli," katanya.
Ketiga pelaku sempat kabur lagi karena keributan yang terjadi. Namun, dua di antaranya terpaksa kembali usai ditelepon rekannya yang telah lebih dulu diamankan di rumah Ketua RW setempat.
Menurut keterangan, uang pinjaman dari koperasi itu sebenarnya digunakan untuk memenuhi kebutuhan harian, dan jumlah yang diterima pun tidak utuh.
"Utang Rp 300 ribu yang diterima juga tidak full, kepotong administrasi," imbuhnya.