Bagi warga Tegalsambi, Perang Obor bukan sekadar tontonan, tetapi bagian dari kehidupan yang terus dijaga.
Salah satunya Petruk yang telah aktif mengikuti tradisi tersebut sejak tahun 2000.
“Saya ikut Perang Obor mulai tahun 2000,” katanya.
Menurutnya, tradisi ini kini juga diteruskan oleh generasi berikutnya di keluarganya.
“Anak saya juga ikut. Ini tradisi turun-temurun,” ujarnya.
Ia berharap Perang Obor tetap lestari dan semakin dikenal masyarakat luas tanpa kehilangan makna yang diwariskan para leluhur.
Sebagai informasi, Tradisi Perang Obor telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 2020. (*)