Setelah melakukan konsolidasi dengan pemerintah daerah, tim TEP UNDIP turun ke masyarakat di Kampung Woslay Satuan Permukiman (SP) 1.
Survei dilakukan untuk memperoleh gambaran mengenai penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), pola penggunaan air, fasilitas sanitasi rumah tangga, serta kebutuhan pelayanan dasar di tingkat keluarga.
Hasil wawancara menunjukkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya PHBS mulai tumbuh. Namun, penerapannya masih sangat bergantung pada ketersediaan fasilitas dasar, terutama air bersih.
“Air sudah menjadi kebutuhan utama untuk aktivitas sehari-hari, mulai dari memasak, mandi, mencuci hingga membersihkan lingkungan rumah. Pada kondisi tertentu, keterbatasan kualitas maupun ketersediaan air menyebabkan kami harus menyesuaikan penggunaannya dengan sumber air yang tersedia,” jelas Martina, salah satu warga Kampung Woslay SP 1.
Temuan tersebut memperlihatkan bahwa penerapan PHBS memiliki hubungan erat dengan ketersediaan air bersih dan fasilitas sanitasi yang layak.
Kebiasaan hidup bersih tidak hanya bergantung pada pengetahuan masyarakat, tetapi juga membutuhkan dukungan sarana berupa air yang aman, jamban layak, dan lingkungan tempat tinggal yang sehat.
Tim juga menemukan kebutuhan pendampingan secara berkelanjutan dengan mempertimbangkan kearifan lokal.
Materi pendampingan antara lain mencakup pengelolaan sampah, pencegahan genangan air limbah domestik, serta pembiasaan mencuci tangan menggunakan sabun, terutama sebelum makan dan setelah menggunakan jamban.
Karena itu, edukasi PHBS perlu berjalan beriringan dengan penyediaan infrastruktur fisik. Aspirasi masyarakat menjadi data pelengkap bagi informasi pemerintah sehingga kajian yang dilakukan tidak berhenti pada kegiatan seremonial.
Dengan menggabungkan data Pemerintah Kabupaten Keerom dan masukan warga Kampung Woslay SP 1, TEP UNDIP menyusun rekomendasi terkait SPAM dan sanitasi yang diharapkan sesuai secara teknis, mudah digunakan serta dirawat, dan memberikan manfaat langsung terhadap kesehatan masyarakat.