Melalui aksi itu, PMII berupaya menyampaikan kritik secara terbuka tanpa meninggalkan nilai-nilai intelektual yang menjadi ciri gerakan mahasiswa.
"Kehadiran kami hari ini adalah pengingat bahwa kedaulatan berada di tangan rakyat. Pemerintah harus mendengar suara masyarakat dan menjawab persoalan-persoalan yang selama ini dirasakan rakyat," ucapnya.
Afiq menegaskan, pihaknya akan kembali menggelar aksi dengan jumlah massa yang lebih besar apabila tuntutan yang dibawa tidak mendapat respons dalam waktu yang ditentukan.
"Kami akan kembali lagi jika tuntutan kami tidak dikabulkan dalam 7 kali 24 jam, tentunya dengan eskalasi massa yang semakin berat, semakin besar, dan akumulasi kemarahan yang semakin berapi," tegasnya.
Adapun delapan tuntutan yang disampaikan PMII Kota Semarang meliputi perbaikan postur APBN yang lebih berpihak kepada rakyat, revisi UU Polri dan UU TNI untuk menguatkan supremasi sipil, pemberantasan korupsi dan percepatan pengesahan RUU Perampasan Aset, evaluasi program-program populis pemerintah, peningkatan transparansi dan akuntabilitas pemerintahan, penanganan kerusakan ekologi serta kemiskinan struktural di Jawa Tengah, pelaksanaan reforma agraria sejati, hingga pengusutan dugaan tindakan represif aparat terhadap masyarakat. (*)