Konten Semarang
Pendidikan

Riset UNDIP soal Disinformasi Iklim Bawa Persoalan Pesisir Demak ke Forum Madrid

Riset UNDIP tentang disinformasi iklim dan kerentanan pesisir Demak dipresentasikan dalam forum akademik internasional di Madrid.

Riset UNDIP soal Disinformasi Iklim Bawa Persoalan Pesisir Demak ke Forum Madrid
Riset UNDIP soal Disinformasi Iklim Bawa Persoalan Pesisir Demak ke Forum Madrid

KONTENSEMARANG.COM – Persoalan perubahan iklim yang dihadapi masyarakat pesisir Demak mendapat perhatian dalam forum akademik internasional di Spanyol. Universitas Diponegoro (UNDIP) membawa hasil riset mengenai disinformasi perubahan iklim dalam konferensi European Association of Southeast Asian Studies (EUROSEAS) 2026 di Universidad Complutense de Madrid, Madrid, 1–3 September 2026.

Riset tersebut dipresentasikan Wijayanto, Ph.D., akademisi Departemen Politik dan Pemerintahan sekaligus Wakil Rektor Bidang Riset, Inovasi, Kerja Sama, dan Komunikasi Publik UNDIP.

Ia memaparkan penelitian berjudul “Beyond the Tide: Climate Disinformation, Religious Authority, and Coastal Vulnerability in Demak.”

Penelitian itu tidak hanya membahas dampak perubahan iklim yang dirasakan masyarakat pesisir Demak, tetapi juga melihat bagaimana informasi, disinformasi, serta peran otoritas keagamaan memengaruhi cara masyarakat memahami persoalan lingkungan.

Wijayanto mengatakan persoalan perubahan iklim perlu dilihat lebih luas karena dampaknya tidak berhenti pada kerusakan lingkungan. Menurutnya, arus informasi yang diterima masyarakat juga menjadi bagian penting dalam menghadapi krisis iklim.

“Krisis iklim bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga persoalan informasi,” ujar Wijayanto.

Riset tersebut dikerjakan melalui kolaborasi Wijayanto bersama peneliti Universitas Amsterdam, Jaron Harambam dan Lara De Poter.

Sebagai bagian dari penelitian, tim melakukan kunjungan lapangan ke Kabupaten Demak pada pertengahan Agustus 2026 untuk melihat secara langsung kondisi kawasan pesisir dan menggali pengalaman warga dalam menghadapi dampak perubahan iklim.

Dalam penelitian tersebut, peran otoritas keagamaan turut menjadi perhatian. Wijayanto menilai tokoh maupun lembaga keagamaan mempunyai posisi yang cukup strategis dalam membantu masyarakat memahami perubahan iklim sekaligus menentukan respons terhadap persoalan tersebut.

Menurutnya, potensi tersebut dapat dikembangkan sebagai bagian dari strategi komunikasi publik dan upaya adaptasi masyarakat terhadap perubahan iklim.

Wijayanto menambahkan, pengalaman masyarakat Demak layak dibawa ke tingkat internasional karena isu perubahan iklim dan disinformasi memiliki cakupan global, meskipun dampak konkretnya dirasakan langsung oleh masyarakat di tingkat lokal.

Keikutsertaan dalam EUROSEAS 2026 juga menjadi bagian dari upaya UNDIP memperkuat riset yang berangkat dari persoalan nyata di tengah masyarakat. Meski mengangkat isu lokal, penelitian tersebut dinilai memiliki relevansi untuk dibahas dalam konteks global.

Hal tersebut sejalan dengan komitmen UNDIP melalui tagline “UNDIP Bermartabat, UNDIP Bermanfaat.” (*)

Baca Juga Otomatis

Rekomendasi berdasarkan kategori dan tag berita ini.

Artikel Selanjutnya

UIN Walisongo Tekankan Pentingnya Ketahanan Keluarga Menuju Indonesia Emas 2045
Pendidikan • 15 September 2026

UIN Walisongo Tekankan Pentingnya Ketahanan Keluarga Menuju Indonesia Emas 2045

Rekomendasi Redaksi