KONTENSEMARANG.COM – Perumda Air Minum (PDAM) Tirta Moedal Kota Semarang resmi menjalin nota kesepahaman (MoU) dengan 16 lembaga pendidikan tingkat menengah hingga perguruan tinggi, Rabu (24/6/2026).
Kesepakatan yang ditandatangani di Kantor PDAM Tirta Moedal ini bertujuan menyinergikan dunia akademis dan industri untuk menghadapi kompleksitas tata kelola air minum.
Kerja sama ini merangkul sejumlah perguruan tinggi, di antaranya Universitas Diponegoro, Universitas Negeri Semarang, Universitas Semarang, Universitas Dian Nuswantoro, UIN Walisongo, Universitas 17 Agustus 1945 Semarang, Universitas IVET, Universitas Sains Teknologi Ekonomi Digital Indonesia, Politeknik Negeri Semarang, dan Yayasan Pharmasi.
Di tingkat sekolah menengah, kerja sama mencakup SMK Negeri Jateng, SMKN 3, SMKN 4, SMKN 7, SMKN 8 Semarang, hingga SMK NU Bandar Kendal.
Direktur Utama PDAM Tirta Moedal Kota Semarang, Ady Setiawan, menegaskan kolaborasi ini adalah langkah konkret merespons tantangan layanan air minum yang membutuhkan intervensi inovasi akademis, bukan sekadar pendekatan birokrasi.
"Penandatanganan MoU ini bukan sekadar seremonial di atas kertas. Ini adalah komitmen nyata untuk mewujudkan ekosistem link and match antara dunia pendidikan dan dunia industri," kata pria yang akrab disapa Wawan tersebut.
Ruang lingkup kerja sama ini mencakup program magang, penelitian, pengabdian masyarakat, hingga pelibatan praktisi mengajar. Wawan mendorong perguruan tinggi untuk menjadikan PDAM sebagai laboratorium hidup.
"Kami membuka pintu selebar-lebarnya agar riset-riset akademis dapat langsung diaplikasikan untuk memecahkan persoalan riil di lapangan, mulai dari konservasi air, efisiensi energi, digitalisasi sistem distribusi, hingga edukasi lingkungan kepada masyarakat," ujarnya.
Salah satu tantangan mendesak yang disoroti adalah penurunan muka air tanah di Semarang yang mencapai 1 hingga 15 sentimeter per tahun. Kondisi ini menuntut inovasi percepatan transisi dari air tanah ke air permukaan.
"Kalau eksploitasi air tanah terus dilakukan secara masif, bukan tidak mungkin Kota Semarang akan menghadapi persoalan yang lebih besar di masa depan. Karena itu kami membutuhkan inovasi dan pemikiran dari dunia pendidikan untuk mendukung keberlanjutan layanan air minum," katanya.