Berbagai upaya mitigasi fisik ini juga diperkuat dengan teknologi Digital Twin yang mampu mensimulasikan skenario bencana pada infrastruktur sebelum benar-benar terjadi.
Mengingat besarnya dana yang dibutuhkan, instrumen pembiayaan hijau (green financing) mulai dimaksimalkan sebagai kunci pembangunan transportasi masa depan.
Lebih jauh, pembangunan transportasi yang tahan iklim ini juga harus menjamin pemerataan. Wilayah pesisir dan 3T (tertinggal, terdepan, terluar) wajib memiliki infrastruktur dengan standar ketahanan tinggi agar tidak terisolasi saat bencana melanda.
Di tengah keterbatasan dana, pemerintah disarankan untuk memprioritaskan koridor ekonomi strategis, seperti Pantura dan Merak-Bakauheni, serta mendiversifikasi angkutan logistik ke moda kapal dan kereta api guna mengurangi beban jalan raya. (*)