KONTENSEMARANG.COM - Perubahan iklim telah menjadi ancaman nyata di Indonesia yang ditandai dengan cuaca ekstrem, banjir, hingga gelombang panas. Kondisi ini secara langsung memukul sektor transportasi yang merupakan urat nadi mobilitas dan logistik nasional.
Sering kali kita mendapati jalan raya tergenang banjir, operasional pelabuhan dan penerbangan tertunda, hingga perjalanan kereta api yang terhambat akibat cuaca.
Merespons krisis ini, Kepala Bidang Lalu Lintas, Angkutan Pelayaran dan Penerbangan pada Badan Kebijakan Transportasi, yang juga pengurus ITS dan MTI, Dr. Bram Hertasning, dalam wawancaranya bersama RRI Pro 3 menegaskan dampak fatal dari krisis iklim.
"Menurut Bram, gangguan terhadap sistem transportasi bukan hanya berdampak pada keterlambatan perjalanan, melainkan juga menimbulkan konsekuensi ekonomi yang jauh lebih besar. Distribusi barang menjadi tersendat, biaya logistik meningkat, rantai pasok terganggu, harga kebutuhan pokok berfluktuasi, bahkan aktivitas industri dapat terhenti ketika jalur distribusi utama tidak dapat berfungsi secara optimal."
Sebagai negara kepulauan, infrastruktur transportasi kini tidak hanya dibangun untuk kebutuhan masa kini, tetapi harus dirancang agar tangguh menghadapi cuaca ekstrem hingga puluhan tahun ke depan.
Di sektor jalan raya, misalnya, adaptasi dilakukan dengan mengembangkan aspal porus yang mampu mengurangi genangan air hujan, serta aspal polimer yang lebih elastis dan tahan terhadap suhu permukaan yang tinggi.
Sementara itu, tantangan di sektor perkeretaapian diatasi melalui pemetaan kerentanan, peninggian elevasi rel di kawasan rawan genangan, penguatan lereng, hingga pemasangan sensor untuk mendeteksi pemuaian akibat suhu panas.
Elektrifikasi jaringan kereta juga terus didorong guna menekan emisi karbon sekaligus mengurangi ketergantungan pada bahan bakar minyak.
Pada sektor maritim, pelabuhan-pelabuhan baru mulai mengadopsi prinsip ketahanan iklim. Langkah ini mencakup peninggian dermaga, penggunaan material tahan korosi, hingga digitalisasi operasional yang terintegrasi dengan informasi cuaca agar jadwal pelayaran dapat segera disesuaikan sebelum badai tiba.
Tidak ketinggalan, sektor penerbangan turut berbenah. Bandara-bandara yang rentan terhadap banjir rob dan hujan ekstrem kini mulai membangun sistem drainase berkapasitas raksasa, kolam retensi, hingga peninggian landas pacu. Langkah tersebut juga dipadukan dengan pemanfaatan energi surya untuk operasional bandara.
Berbagai upaya mitigasi fisik ini juga diperkuat dengan teknologi Digital Twin yang mampu mensimulasikan skenario bencana pada infrastruktur sebelum benar-benar terjadi.
Mengingat besarnya dana yang dibutuhkan, instrumen pembiayaan hijau (green financing) mulai dimaksimalkan sebagai kunci pembangunan transportasi masa depan.
Lebih jauh, pembangunan transportasi yang tahan iklim ini juga harus menjamin pemerataan. Wilayah pesisir dan 3T (tertinggal, terdepan, terluar) wajib memiliki infrastruktur dengan standar ketahanan tinggi agar tidak terisolasi saat bencana melanda.
Di tengah keterbatasan dana, pemerintah disarankan untuk memprioritaskan koridor ekonomi strategis, seperti Pantura dan Merak-Bakauheni, serta mendiversifikasi angkutan logistik ke moda kapal dan kereta api guna mengurangi beban jalan raya. (*)