Pipie menyebut tabebuya saat ini telah ditanam di berbagai lokasi, antara lain Kaligarang, Jalan Pemuda, Banjir Kanal Barat, Pamularsih, dan Ngaliyan.
Namun, populasi tabebuya paling banyak berada di kawasan Jalan Madukoro dan Basudewo, khususnya di sisi kiri dan kanan Banjir Kanal Barat.
“Tabebuya kami sebar. Ada di Kaligarang, Pemuda, Banjir Kanal Barat, Pamularsih, dan Ngaliyan. Yang paling banyak memang di Madukoro dan Basudewo,” katanya.
Ke depan, Pemkot Semarang berencana menerapkan konsep penghijauan tematik. Setiap kawasan akan memiliki karakter tanaman yang disesuaikan dengan kondisi lingkungan dan kebutuhan wilayah.
Jalan Gajah Mada, Jalan Pemuda, dan Jalan Madukoro menjadi beberapa kawasan yang dapat dikembangkan dengan jenis tanaman tertentu sebagai identitas masing-masing.
“Ke depan arahnya setiap wilayah bisa memiliki tanaman tematik. Jenis tanaman besar, sedang, dan kecil akan disesuaikan dengan karakter masing-masing kawasan,” jelas Murni.
Konsep tersebut juga mempertimbangkan karakter lingkungan. Wilayah Semarang Utara yang memiliki risiko rob, misalnya, membutuhkan tanaman yang mampu beradaptasi dengan kondisi air asin.
Ketapang menjadi salah satu jenis tanaman yang dapat digunakan karena dinilai lebih tahan terhadap kondisi tersebut.
“Kalau wilayah yang terkena rob, tentu tanaman harus disesuaikan. Misalnya ketapang yang lebih tahan terhadap air asin. Jadi konsep penanamannya akan berbeda di setiap wilayah,” ujarnya.
Sementara itu, tabebuya disebut relatif mudah dalam perawatannya. Tanaman tersebut justru lebih optimal berbunga ketika memperoleh paparan panas yang cukup.