Gus Yasin menilai tawaran kerja sama itu sejalan dengan komitmen Pemprov Jateng dalam memperluas akses pendidikan bagi kalangan santri. Hal tersebut dinilai penting mengingat Jawa Tengah memiliki sekitar 5.378 pondok pesantren.
Upaya memperluas akses beasiswa bagi santri juga telah dilakukan Pemprov Jateng melalui Lembaga Fasilitasi Sinergi Pesantren (LFSP) Jawa Tengah. Pada tahun ini, sebanyak 73 santri Jawa Tengah memperoleh kesempatan mendapatkan beasiswa pendidikan.
Dari jumlah tersebut, 15 santri melanjutkan pendidikan ke luar negeri, antara lain ke Yaman, Mesir, dan China.
“Tidak menutup kemungkinan kami juga akan melakukan kerja sama dengan Ma’had beliau (Awwamah Center Indonesia),” kata Taj Yasin.
Sementara itu, Direktur ACI Syekh Muhyiddin Awwamah menyampaikan bahwa penjajakan kerja sama dengan Indonesia merupakan bagian dari langkah lembaganya dalam memperluas pendidikan ilmu hadis.
Saat ini, ACI telah membangun jaringan dengan lembaga pendidikan di lebih dari 70 negara. Jaringan tersebut mencakup sekitar 250 pusat pendidikan yang bergerak dalam bidang hadis.
Di Indonesia, Awwamah Center telah bekerja sama dengan sekitar 40 lembaga pendidikan. Lembaga tersebut meliputi pesantren, perguruan tinggi, hingga institusi pendidikan keagamaan.
Muhyiddin melihat Indonesia memiliki potensi besar dalam pengembangan pendidikan hadis. Jumlah pesantren yang besar serta perhatian masyarakat terhadap pendidikan keagamaan menjadi salah satu modal utama.
Meski demikian, ia menilai kajian hadis secara khusus masih perlu mendapat penguatan. Selama ini, lembaga pendidikan dinilai lebih banyak memberikan perhatian pada bidang fikih, tasawuf, akidah, maupun bahasa Arab.
Adapun lembaga yang secara khusus menyiapkan kader untuk mendalami ilmu hadis masih tergolong terbatas.